Khutbah Jumat Awal Ramadan 20 Februari: 3 Tingkatan Puasa Menurut Imam Al-Ghazali
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Yunan Helmy
20 - Feb - 2026, 05:00
JATIMTIMES - Ramadan selalu hadir membawa limpahan rahmat dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Namun, tidak semua orang menjalani puasa dengan kualitas yang sama. Ada yang sekadar menggugurkan kewajiban, ada pula yang menjadikannya sebagai jalan untuk semakin mendekat kepada Allah.
Imam Al-Ghazali membagi puasa ke dalam tiga tingkatan yang menggambarkan kedalaman makna ibadah. Dari puasa yang hanya menahan makan dan minum hingga puasa yang mampu menjaga hati, pikiran, dan seluruh anggota tubuh dari hal-hal yang sia-sia.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Jumat Pon 20 Februari 2026: Ambisinya Berapi-api
Melalui khutbah Jumat ini, kita diajak untuk bercermin sudah sampai di level manakah puasa yang kita jalani selama ini?
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِى الْفَضْلِ الْجَسِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، اَلْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Ma’asyiral Muslimin jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah senantiasa kita panjatkan puji dan syukur, alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, bukan hanya terucap di lisan, tetapi juga tercermin dalam sikap dan kehidupan kita sehari-hari, atas segala nikmat dan karunia Allah yang tidak terhitung banyaknya.
Terlebih lagi, kita masih diberi umur dan kesempatan untuk beribadah serta kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadan, bulan yang sarat dengan keberkahan, ampunan, dan curahan rahmat-Nya. Semoga setiap amal ibadah yang kita kerjakan di bulan mulia ini diterima sebagai amal saleh dan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah Swt.
Selawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad saw., allahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaih, suri teladan terbaik dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam menghidupkan ibadah di bulan Ramadan.
Mudah-mudahan kita termasuk umatnya yang diakui dan memperoleh syafaatnya kelak di hari akhir. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Sebagai khatib, sudah menjadi tanggung jawab untuk senantiasa mengingatkan jemaah salat Jumat agar terus menumbuhkan dan memperkuat iman serta takwa kepada Allah Swt., yakni dengan istiqamah menjalankan segala kewajiban dan menjauhi seluruh larangan-Nya.
Takwa merupakan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat. Dunia ini hakikatnya adalah ladang tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memetik hasilnya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ
Artinya: “Berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS Al-Baqarah: 197).
Ma’asyiral Muslimin jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Tanpa terasa, kini telah memasuki di bulan Ramadan. Dan kita patut bersyukur karena kembali diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu bulan Ramadan di tahun ini. Ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga ditempa untuk bersabar, belajar ikhlas, dan membangun kedisiplinan dalam menaati perintah Allah.
Itulah hakikat tujuan puasa, yakni membentuk pribadi yang bertakwa sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183).
Perlu dipahami bahwa setiap orang menjalani puasa dengan tingkat kesadaran dan kualitas yang berbeda. Ada yang hanya menahan diri dari makan dan minum.
Ada pula yang menjaga lisannya dari perkataan buruk, menahan pandangan dari hal yang diharamkan, serta berusaha menjauhi maksiat. Bahkan ada yang menjadikan Ramadan sebagai momentum sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati sepenuhnya kepada Allah.
Dalam hal ini, Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa derajat orang yang berpuasa terbagi menjadi tiga tingkatan:
• Puasa orang awam.
• Puasa orang khusus (pilihan).
• Puasa orang yang paling khusus (istimewa).
Beliau menerangkan:
Baca Juga : Perwakilan MPM Honda Jatim Sabet Juara Nasional di Festival Vokasi Satu Hati 2026
أَمَّا صَوْمُ الْعُمُوْمِ فَهُوَ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَضَاءِ الشَّهْوَةِ. وَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوْصِ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ. وَأَمَّا صَوْمُ خُصُوْصِ الْخُصُوْصِ فَصَوْمُ الْقَلْبِ عَنِ الْهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَالْأَفْكَارِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللهِ بِالْكُلِّيَّةِ
Artinya: Puasa orang awam adalah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi syahwat. Puasa orang pilihan ialah menjaga pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Sedangkan puasa orang yang paling istimewa adalah menjaga hati dari keinginan rendah dan pikiran duniawi, serta memalingkannya dari segala sesuatu selain Allah secara menyeluruh.
Maka pertanyaannya, di manakah posisi puasa yang kita jalani?
Apakah masih sebatas menahan lapar dan dahaga?
Ataukah sudah berupaya menjaga seluruh anggota tubuh dari maksiat?
Atau bahkan telah berusaha membersihkan hati agar sepenuhnya tertuju kepada Allah?
Awal Ramadan ini adalah kesempatan terbaik kita untuk melakukan menetapkan tujuan agar puasa yang dijalani tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, melainkan benar-benar mengangkat derajat di sisi Allah Swt.
Ma’asyiral Muslimin jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Karena itu, manfaatkanlah hari-hari Ramadan ini dengan sebaik-baiknya. Tingkatkan kualitas puasa agar nilainya semakin baik dan terus bertambah. Jangan biarkan puasa tahun ini berlalu tanpa perbaikan dalam ibadah dan ketakwaan.
Jika selama ini puasa masih berada pada tingkat dasar, berusahalah naik dengan menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa. Jika sudah sampai pada tingkat orang pilihan, maka berupayalah mencapai derajat tertinggi, yaitu puasa hati yang benar-benar terikat hanya kepada Allah.
Demikian khutbah Jumat tentang tiga tingkatan derajat orang yang berpuasa di bulan Ramadan. Semoga apa yang disampaikan menjadi bahan renungan sekaligus dorongan untuk meningkatkan mutu ibadah, khususnya dalam menjalankan puasa.
Semoga Ramadan tahun ini menjadi momentum kita untuk memperbaiki diri, mendekatkan hati kepada Allah, dan meraih derajat puasa yang lebih tinggi di sisi-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ.أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَوَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
