Dari Dapur Sederhana, Opak Gambir Maharis Tembus Hampers Lebaran ke Berbagai Kota
Reporter
Riski Wijaya
Editor
Yunan Helmy
19 - Mar - 2026, 07:54
JATIMTIMES - Aroma santan kelapa yang dipanaskan perlahan memenuhi dapur sederhana itu. Di atas cetakan panas, adonan tipis perlahan berubah menjadi lembaran opak gambir berwarna keemasan.
Satu per satu digulung dengan telaten. Prosesnya tampak sederhana, tetapi di baliknya tersimpan cerita panjang tentang ketekunan, keluarga, dan usaha yang dirintis dari nol.
Baca Juga : Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ruas Tol yang Berlaku
Adalah Hartiningsih, pemilik usaha Opak Gambir “Maharis”, yang sejak 2005 konsisten memproduksi camilan tradisional tersebut dari rumahnya. Siapa sangka, usaha yang lahir dari rasa penasaran itu kini mampu menembus pasar luar kota dan menjadi bagian dari hampers Lebaran.
Hartiningsih bercerita, ide memulai usaha ini muncul dari pengalaman sederhana dalam hidupnya. Dulu ia bekerja di sebuah restoran. Namun setelah memiliki anak kecil, ia memutuskan berhenti bekerja dan fokus di rumah.
“Saya dulu kerja di restoran. Setelah punya anak kecil, akhirnya tidak kerja. Waktu itu sempat kepikiran, ‘kok saya tidak dapat THR ya?’ Dari situ saya mulai berpikir untuk mencoba usaha sendiri,” ujarnya sambil tersenyum.
Dari rasa penasaran itu, ia kemudian belajar membuat opak gambir dari salah satu saudaranya. Setelah merasa cukup belajar, ia mulai mencoba mempraktikkannya sendiri di rumah.
Prosesnya tentu tidak langsung mulus. Berkali-kali percobaan dilakukan hingga ia menemukan rasa yang pas. “Awal-awal bikin ya tidak langsung bagus. Dari tahap demi tahap saya perbaiki rasanya, kegurihannya, resepnya saya modifikasi sendiri sampai akhirnya jadi seperti sekarang,” ungkapnya.
Kerja keras itu perlahan membuahkan hasil. Seiring waktu, opak gambir buatannya mulai dikenal pelanggan. Bahkan ada pelanggan yang secara khusus meminta varian premium untuk dijadikan hampers.
Menariknya, pesanan tersebut tidak sedikit. Dalam satu kali order, pelanggan tersebut bisa memesan hingga 20 kilogram opak gambir.
“Ada pelanggan saya yang minta yang paling enak, premium. Itu biasanya untuk hampers yang dikirim ke luar kota, seperti Bandung, Semarang, sampai Surabaya. Satu boks biasanya campur, ada opak gambir saya, semprit, nastar, dan lainnya,” jelas Hartiningsih.
Bagi Hartiningsih, pelanggan tersebut menjadi salah satu penyokong besar usaha yang ia jalankan selama ini. “Alhamdulillah sampai sekarang beliau masih pesan. Itu yang sangat membantu usaha saya,” ungkapnya.
Dalam produksinya, Opak Gambir Maharis memiliki lima varian rasa. Mulai dari rasa original tanpa topping, hingga varian dengan tambahan wijen, jahe, keningar, dan cokelat.
Namun yang paling diminati adalah varian premium. Selain ukurannya lebih kecil dan rapi, bahan yang digunakan juga lebih banyak.
“Harganya memang lebih mahal karena wijennya lebih banyak, santannya juga lebih banyak, telurnya juga beda. Jadi, orang yang pesan memang biasanya ingin yang kualitas premium,” katanya.
Proses pembuatan opak gambir premium pun membutuhkan ketelatenan lebih. Untuk satu resep saja, proses produksinya bisa memakan waktu hingga dua hari.
Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi
“Satu resep premium itu hasilnya dua kilo matang. Karena bentuknya kecil-kecil jadi lebih lama,” jelasnya.
Sementara untuk ukuran standar yang lebih besar, prosesnya bisa selesai dalam sehari.
Meski pesanan terus datang, Hartiningsih tetap mempertahankan produksi rumahan dengan skala kecil. Bahkan hampir seluruh proses masih dikerjakan sendiri.
“Sebagian besar saya kerjakan sendiri. Suami bantu meras santan, belanja bahan, atau kirim pesanan. Untuk packing juga suami yang bantu,” ujarnya.
Sementara anaknya yang kini tinggal di Kalimantan sesekali membantu dari sisi desain, seperti membuat logo produk. “Kalau logo-logo biasanya anak saya yang bantu,” tambahnya.
Menariknya, Hartiningsih tidak menitipkan produknya di toko. Ia memilih sistem pre-order agar produksi tetap sesuai pesanan.
“Jadi dari order saja. Kami tidak titip jual di toko. Paling kalau ada pameran atau bazar dari kecamatan saya ikut,” katanya.
Harga Opak Gambir Maharis sendiri cukup terjangkau. Untuk varian standar dibanderol sekitar Rp110 ribu per kilogram. Sementara varian premium dijual Rp135 ribu per kilogram.
Menjelang Lebaran, pesanan biasanya mulai berdatangan. Tahun ini saja, Hartiningsih sudah menerima sekitar 15 pesanan, belum termasuk pesanan dari reseller yang ikut menjual produknya kembali.
“Ya sedikit-sedikit ini kan bagi rezeki juga. Ada reseller yang ambil dari saya, nanti dia jual lagi,” ujarnya.
Di dapur kecil itu, setiap gulungan opak gambir bukan sekadar camilan. Ia adalah hasil ketekunan selama dua dekade—kisah tentang bagaimana sebuah usaha rumahan bisa bertahan, tumbuh, dan ikut meramaikan tradisi berbagi hampers saat Lebaran.
