Mahasiswa UMM Hamdi Rosyidi memilih bekerja part time menjaga stan minuman khas Thailand. (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)
Mahasiswa UMM Hamdi Rosyidi memilih bekerja part time menjaga stan minuman khas Thailand. (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)

 Budaya kerja part time yang biasa dilakukan mahasiswa di luar negeri tampaknya mulai merambah masuk Kota Pendidikan Malang. Di tengah padatnya jadwal kuliah, banyak mahasiswa di Bhumi Arema memilih bekerja part time di berbagai bidang. Apa saja? 

Di negara-negara maju, jangan kaget menemui pelayan-pelayan toko ataupun kafe berwajah muda. Mahasiswa dibsana bekerja part time di kedai-kedai kopi atau restoran. 

Di Australia honor kerja part time cukup lumayan. Peraturan kerja part time bagi mahasiswa adalah 40 jam selama masa kuliah. Bila per jamnya gaji di sana bisa mencapai AUD 15-25 (sekitar Rp 162.188-Rp 270.314). Maka bila mahasiswa melakoni kerja part time selama 40 jam, mereka meraup minimal AUD 600 atau bila dirupiahkan mencapai Rp 6,4 juta. 

Sayang, di Indonesia belum ada peraturan dari pemerintah yang mengatur tentang sistem kerja bagi mereka yang berstatus sebagai mahasiswa. Meski begitu, tidak menghalangi tekad mahasiswa mulai terjun bekerja meski masih masa studi. Sebagaimana umumnya bidang kerja part time mahasiswa luar negeri, di Malang pun ada mahasiswa yang memilih kerja sebagai pelayan kafe. 

Di Malang, mahasiswa rata-rata bekerja part time dengan durasi waktu antara empat hingga delapan jam. Tetapi soal honor tidak ada besaran pasti sebagaimana penerapan upah mahasiswa part time di negara-negara maju.

"Saya pernah beberapa kali bekerja di kafe, tapi ya itu honornya menurut saya sedikit dibanding pekerjaan yang harus saya lakukan," ungkap Hamdi Rosyidi, mahasiswa magister Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). 

Honor kerja di kafe, kata Hamdi mulai Rp 350 ribu-Rp 400 ribu. Namun, di kafe tertentu bisa mencapai Rp 900 ribu. Tetapi ia bisa bekerja sampai lebih dari jam yang ditentukan. Belum lagi menjadi pelayan kafe, menurut dia, lebih banyak yang harus dikerjakan. 

"Itu yang buat saya akhirnya pindah kerja jaga stan minuman saja. Karena gajinya juga memang kalau part time kan ya belum bisa Rp 1 juta. Kalau di kafe pun juga di stan minuman. Tapi pekerjaan tidak sebanyak di kafe," sambung Hamdi. 

Ia menjaga stan yang menawarkan produk minuman khas asal Thailand di Mall Dinoyo City. Sistem kerja di minuman franchise itu, kata Hamdi, ialah selama enam jam kerja. Honor yang ia dapat mencapai Rp 700 ribu. Tetapi ada bonus yang ia bilang cukup menggiurkan dan tidak ditemui di kafe ia bekerja dahulu. 

"Selain honor saya dapat bonus yakni tiga persen dari hasil penjualan minuman ini. Kalau sudah capai seribu gelas saya bisa jual, saya dapat Rp 500 ribu. Kan lumayan jadi saya lebih giat mencari pelanggan," papar pria berusia 24 tahun ini. 

Hamdi memang baru mencoba peruntungan kerja part time di bidang kuliner saja. Tetapi menurut dia, menjaga stan minuman lebih gampang karena selagi tidak ada pembeli, ia bisa mengerjakan tugas-tugas kuliah. "Dibandingkan di kafe lebih sibuk dan saya tidak ada waktu sela-sela untuk belajar atau mengerjakan tugas," kata dia.

Senada dengan Hamdi, mahasiswa Malang yang juga mengambil kerja part time adalah Dwiki Bastian Effendi. Pernah bekerja di sebuah kafe dibJalan Kawi Kota Malang, Dwiki berhenti bekerja lantaran waktu kerja yang mengganggu kuliahnya. Dwiki malah bekerja di jalanan hingga larut malam. Pekerjaan apa yang ia lakukan? 

Simak terus ulasan Tren Kerja Part Time Mahasiswa di Malang hanya di media online berjejaring terbesar di Indonesia, MalangTIMES. (*)