Oknum jukir berbaju biru yang diduga melakukan penarikan parkir (repro)
Oknum jukir berbaju biru yang diduga melakukan penarikan parkir (repro)

Permasalahan parkir di Kota Malang kembali mencuat. Hal ini setelah munculnya unggahan dari akun Wahyu Ari yang mengunggah video dan foto yang menunjukkan adanya penarikan tarif parkir bus kecil yang di luar kewajaran.

Dalam postingannya yang saat ini viral dengan 2.000 lebih like, 3.000 lebih komentar, serta 290 kali dibagikan, Wahyu mengungkapkan telah menjadi korban mafia parkir. Sebab, ia dan keluarganya ditarik parkir dengan tarif Rp 50 ribu.

Dan dari video yang terlihat, terdengar suara perdebatan mengenai tarif parkir yang mahal itu. Dalam percakapan itu, terdengar Wahyu sempat menanyakan tarif parkir dan meminta karcis parkir sembari merekam kejadian tersebut. Namun, si oknum jukir tersebut lantas mengatakan jika tarif tersebut merupakan hal yang biasa. Sementara untuk tarif Elf Rp 20 ribu.

Selain itu, dalam percakapan, Wahyu juga meminta karcis parkir. Namun si oknum jukir tersebut mengatakan  tidak ada karcis parkir. "Ganok karcis,e mas, takon o kabeh ndek kene ganok karcis,e," beber si oknum jukir yang tak mengenakan seragam dan berbaju biru tersebut.

Dalam video tersebut, si oknum jukir juga membenarkan bahwa tarif parkir Rp 50 ribu tersebut adalah hal yang umum. "Yo ancen umum,e kabeh (tarif 50), lek Elf Rp 20, mobil cilik Rp 5 ribu," kata si oknum parkir.

Sementara itu, dalam postingannya yang diunggah kemarin (17/2019), Wahyu menuliskan kalimat seperti di bawah ini. 

"Bantu viralkan demi Kota Malang. Bantu up sebanyak banyaknya dulur biar gak ada lagi korban mafia parkir seperti saya dan keluarga saya. Dulu kayaknya pernah di datangi Dishub gara-gara parkir bus Rp 40 ribu. Malang kakean preman mosok parkir Rp 50 ribu bis cilik. Lokasi Alun-Alun Malang, selatan masjid. Wajah-wajah preman, karcis ga onok seragam parkir ganok. (Wajah-wajah preman, karcis tidak ada, seragam tidak ada).

Ayo sopo petugas seng bertanggung jawab iki koyok e ga sue kejadian seng perkoro bis di tarek 40 ewu iko mosok sak iki kejadian maneh. (ayo siapa petugas yang bertanggung jawab, sepertinya tidak lama ada kejadian bis ditarik Rp 40 ribu, masak kembali kejadian lagi)

Ojok kate dadi kota indah seng di datangi wisatawan, lhek ga iso ngatasi mafia-mafia parkir. Koyok ngene brantasen sak akar-akar e, ojok mek di sidak tok. Lhek mek sidak tok preman yo ga wedi, opo maneh preman e plek ambek wong njero tambah semena mena nang wisatawan. (Jangan jadi kota indah yang didatangi wisatawan, kalau Tidka bisa mengatasi mafia-mafia parkir. Sepeti ini berantas sampai akar-akarnya. Jangan cuma disidak saja. Kalau cuma disiksa, preman Tidka takut, apalagi premannya punya kenalan orang dalam, tamabha semena-mena ke wisatawan).

Di vidio wes jelas raine wonge, mosok mek kate di sidak tok, opo disidak mek gawe formalitas pembodohan publik ben netizen ga terus terusan viralno. ( Di video jelas wajah orangnya. Masak cuma disidak saja. Apa disidak cuma untuk formalitas pembodohan publik, biar netizen tak terus-terusan memviralkan).

Di vidio wonge ngomong lhek gatau disidak ndk kene ket bien ngene dan wonge sadar kamera terus ngaleh. (Di video orangnya juga bilang, kalau tidak pernah disidak, disini dari dulu seperti ini. Dan orangnya dasar kamera terus pergi).

Ga isin a pemerintah kota malang lhek alun alun opo tempat wisata akeh preman e koyok ngene. Sepurane lhek omonganku bletotan. (Gak malu pemerintah Kota Malang,  jika Alun-Alun atau tempat wisata  banyak preman seperti ini. Mohon maaf jika omongan saya berantakan).

Di sisi lain, pihak kepolisian melalui Kasubag Humas Polres Malang Kota Ipda Ni Made Seruni Marhaeni mengatakan, saat ini, jajaran kepolisian sendiri tengah melakukan penyelidikan di lapangan mengenai adanya kasus parkir Rp 50 yang bisa masuk kategori premanisme.

"Pak Kapolres sudah memerintahkan jajaran reskrim maupun kapolsek untuk melakukan tindak lanjut ke lapangan," pungkasnya.