Suminten, penerima PKH tampak sibuk mengurus usaha laundry yang dirintis dari bansos PKH. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Suminten, penerima PKH tampak sibuk mengurus usaha laundry yang dirintis dari bansos PKH. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Program Keluarga Harapan (PKH) yang diberikan kepada Keluarga Miskin (KM) mulai banyak dirasakan manfaatnya bagi para penerima. Sebagian memilih mundur dari keanggotaan PKH lantaran sudah merasa mampu secara mandiri.

Salah seorang Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH, Suminten (49), warga Jl Gubernur Suryo, Desa Sengon, Kecamatan/Kabupaten Jombang menyatakan mundur dari keanggotaan PKH.

Suminten yang memiliki 2 anak ini mulai tercatat sebagai KPM sejak 2017. Sejak saat itu, bansos yang diterimanya selalu disisihkan untuk ditabung guna merintis usaha laundry yang ia geluti hingga saat ini.

"Ya uang bantuan itu saya belanjakan untuk kebutuhan sekolah, sebagian saya sisihkan untuk modal usaha," ujar Suminten saat diwawancarai di kediamannya, Rabu (17/7) siang.

Usaha laundry Suminten yang dirintis dari bansos yang ia tabung secara berkala ini, kini menjadi ladang pendapatan keluarganya. Sebelumya, Suminten hanya menggantungkan penghasilan suami yang tidak menentu.

Dari usaha itu, ia kini telah mampu mencukupi kebutuhan sekolah anak-anaknya yang duduk di bangku perkuliahan dan satu anaknya yang masih duduk di bangku SMP. Bahkan, Suminten juga mampu merenovasi rumah dari hasil usahanya tersebut.

"Dulu buat bayar sekolah saja susah, sekarang Alhamdulillah sudah bisa," tandasnya.

Dikatakan Suminten, karena usaha yang ia rintis dari modal bansos PKH ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan, maka ibu dua anak ini memilih mundur dari kepesertaan PKH terhitung dari tahun 2019 ini.

"Saya sekarang memutuskan mundur secara mandiri dari PKH, karena sudah punya usaha sendiri," tuturnya.

Sama halnya Suminten, penerima manfaat lainnya, Maria (33), juga menyatakan mundur dari kepesertaan PKH di tahun 2019 ini.

Maria mundur dari kepesertaan PKH karena ia sudah mampu mengembangkan usaha yang ia kembangkan dari penerimaan bansos PKH.

"Saya mengundurkan diri sendiri tanpa paksaan siapapun. Karena saya sekarang merasa sudah cukup. Di PKH itu tidak hanya diberi bantuan tapi juga diberikan ilmu agar bisa berkembang," ungkap Maria.

Saat ini Maria sedang menggeluti usaha kuliner ayam geprek dan toko kelontong di rumahnya, Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang.

Usaha yang Maria rintis ini dari hasil menyisihkan uang bansos PKH yang diterimanya setiap 3 bulan sekali.  Dikatakan Maria, dari bansos sejumlah Rp 1,5 juta yang diterima setiap tahunnya, ia mampu sisihkan untuk modal usaha.

"Modalnya ya dari menyisihkan bantuan PKH itu. Disisihkan bertahap, misalkan tahap pertama dapat Rp 500 ribu, ya saya sisihkan 300. Sekolah sekarang kan hanya bayar buku LKS, lah sisia beli buku itu saya sisihkan," terangnya.

Sementara, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jombang, Moch Saleh mengaku bangga dengan adanya para keluarga penerima manfaat yang bisa lepas dari program bansos yang selama ini diterima.

Dikatakan Saleh, saat ini pihak Dinas Sosial Kabupaten Jombang sedang melakukan upaya percepatan graduasi mandiri. "Graduasi ini diharapkan oleh pemerintah pusat dan daerah agar program yang diluncurkan sejak 2007-2019 ini terlihat maksimal," ujarnya.

Masih menurut Saleh, sejak awal diluncurkan bansos PKH oleh pemerintah pusat, saat ini sudah banyak yang merasakan manfaatnya.

Terbukti dari total peserta PKH sebanyak 49.760, di tahun 2019 ini sudah mencapai 9.673 peserta yang dinyatakan graduasi atau mundur dari kepesertaan. Baik graduasi secara alami maupun mandiri.

"Ada suatu peningkatan yang positif. Dari 49 ribu peserta PKH, kini ada 9.673 yang graduasi. Baik graduasi secara alami karena lepas dari komponennya, maupun graduasi sejahtera mandiri, atau keluar sendiri karena sudah mampu," pungkasnya.(*)