Kepala Desa Jarakan, Suad Bagio tunjukan olahan andalan Janda Jarakan (foto : Joko Pramono /Jatim Times)
Kepala Desa Jarakan, Suad Bagio tunjukan olahan andalan Janda Jarakan (foto : Joko Pramono /Jatim Times)

Janda (jajanan desa) Desa Jarakan, Kecamatan Gondang sudah diakui oleh Dinas Kesehatan Tulungagung. Buktinya 18 janda sudah mendapat sertifkat PIRT dari dinas kesehatan.

Pemberian PIRT ini lantaran kualitas produk olahan warga Jarakan yang dinakodai oleh Suad Bagyo sudah memenuhi standart kesehatan.

"Kita sudah mengusahakan pelatihan, mengajukan ke Dinas Kesehatan sehingga keluar legalitas PIRT," ujar Kepala Desa Jarakan, Suad Bagio, Selasa (10/12/19).

Pengajuan PIRT ini lantaran adanya ketakutan warga yang sering dirazia lantaran produk olahanya tidak dilengkapi legalitas seperti PIRT,

Dari pengajuan ini terbitlah 34 item makanan olahan, namun bari 18 yang mendapat PIRT. Makanan yang sudah mendapat PIRT di antaranya sambal kering 6 varian, keripik pisang, keripik jamur dan produk lainya,

Sedangkan produk yang belum terbit PIRT diantaranya, rica-rica mentok, ayam lodho dan donat.

"Kalau makanan basah insya Allah minggu depan legalitasnya keluar, karena masih ada kajian kadar airnya," terang Suad.

Sebutan janda tak hanya untuk menyebut jajanan desa, namun juga pengolah produk olahan ini yang sebagian merupakan janda.

Untuk Janda sendiri sebagian besar bahan berasal dari sekitar desa Jarakan, dengan memberdayakan masyarakat sekitar.

Ke depanya Janda akan ditampung dalam satu wadah kelompok wanita Bunda Hebat Bunda Bangkit dibawah naungan PKK Jarakan. Saat ini jumlah anggotanya sekitar 42, jika seluruh PKK  bergabung sekitar 112.

Saat ini pihaknya sedang membangun rest area di samping kantor desa Jarakan. Selain di Bumdes, nantinya Janda akan dijual di rest area ini.

"Insya Allah mulai bulan Februari nanti akan kita jual di rest area," tutur mantan wartawan salah satu media harian itu.

Sebagian produk Janda juga sudah dijual ke luar negeri, seperti Arab Saudi dengan omzet Rp 120 juta pertahun.

Sebagian produk ini juga sudah dijual di toko modern Bumdesmart, gabungan dari bumdes desa-desa di Kecamatan Gondang.

"Awalnya kita pasarkan ke wilayah kita sendiri lalu kita tawarkan ke ritel-ritel," ujarnya.

Sayang usaha yang dirintis oleh warganya terkendala dengan buruknya kualitas sebagian air di desa ini. Saat disinggung beraloh menggunakan air PDAM, Suad dengan tegas menyampaikan kualitas air PDAM lebih buruk.

"Kalau kita menggunakan PDAM malah tambah zonk, PDAM malah enggak karu-karuan, bakterinya masih terlalu banyak," pungkas Suad.

Dalam kegiatan ini juga dilakukan santunan untuk anak yatim dan orang jompo di wilayah Jarakan, dan dilanjutkan dengan makan bersama olahan kelompok wanita Bunda Hebat Bunda Bangkit.