Suasana di TPA Talangagung Kepanjen yang masih memakai metode Controlled Landfill dalam pengelolaan sampahnya (dok MalangTimes)
Suasana di TPA Talangagung Kepanjen yang masih memakai metode Controlled Landfill dalam pengelolaan sampahnya (dok MalangTimes)

Harapan besar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang terkait pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Talangagung, Kepanjen, dengan basis Sanitary Landfill, harus dikubur terlebih dahulu di tahun ini.

Pasalnya, untuk merubah sistem pengelolaan sampah di TPA Talangagung dari metode Controlled Landfill  yakni dengan cara memadatkan sampah sebelum ditimbun tanah. Ke Sanitary Landfill yang diharapkan selama ini membutuhkan anggaran sangat besar. Yakni bisa mencapai besaran Rp 80-100 miliar untuk mewujudkannya.

Anggaran fantastik itu tentunya tak mungkin dialokasikan melalui APBD Kabupaten Malang. Sehingga Pemkab Malang pun berharap banyak ke Bank Dunia untuk membantu penganggarannya.

Budi Iswoyo Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, membenarkan kebutuhan merubah sistem pengelolaan sampah di TPA Talangagung, ditaruh pada kucuran dana Bank Dunia. "Kita menunggu adanya bantuan dari Bank Dunia untuk itu. Anggarannya terlalu besar bila lewat daerah. Tapi memang sampai saat ini kucuran dana belum turun," ucapnya terkait harapan besar merubah sistem pengelolaan sampah di TPA Talangagung.

Belum turunnya bantuan Bank Dunia ternyata dari informasi yang didapat wartawan dikarenakan adanya prioritas lain yang ditanganinya. Yakni, mendahulukan bantuan dana untuk pengelolaan sampah di Sungai Citarum.

Hal inilah yang membuat di tahun 2020 ini kembali harapan besar Pemkab Malang harus ditunda lagi. Sebagai informasi, sanitary landfill adalah metode TPA yang paling maju saat ini dimana sampah diurug dan dibuang secara sistematis. Setiap hari sel sampah ditutup atau dilapisi dengan tanah. Pada dasar tempat pembuangan, dibuat pipa-pipa pengalir air lindi yang kemudian diolah menjadi energi. Di antara sel-sel sampah juga dipasang pipa-pipa penangkap gas metan yang kemudian diolah menjadi energi. Sanitary memiliki fasilitas lebih lengkap dan mahal dibanding controlled landfill. 

Selain itu sanitary landfill membutuhkan lahan luas di TPA sebagai salah satu syaratnya. Hal ini pula yang telah dilakukan di TPA Talangagung dalam merubah sistem pengelolaan sampahnya, yaitu menyediakan lahan tambahan seluas 6 hektar (ha) untuk keperluan sanitary landfill.

Sayangnya, bantuan Bank Dunia tak turun-turun, sehingga TPA Talangagung harus bersabar untuk tetap memakai metode Controlled Landfill. Dimana, kerap gunungan sampah yang dipadatkan di lokasi menyebarkan bau tak sedap cukup jauh dari lokasi bila angin bertiup kencang dan musim penghujan seperti saat ini.