Peta terbaru titik kerawanan penyebaran Covid-19 di Jatim
Peta terbaru titik kerawanan penyebaran Covid-19 di Jatim

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Surabaya Raya jilid tiga belum begitu sukses menekan angka penyebaran Covid-19 di Surabaya. Hal ini dikarenakan masih tingginya peningkatan kasus. 

“Jadi kalau kita lihat, aspek perilaku masyarakat di tengah pandemi ini masih jelek. Kepatuhan menjalankan protokol kesehatan kurang, malah sekarang seperti biasa kayak gak ada PSBB,” kata pakar epidemologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Dr. Whindu Purnomo.

Dia mencontohkan seperti halnya di pasar-pasar kembali tidak ada physical distancing serta ada warga atau pedagang yang tidak menggunakan masker.

“Ini tidak menggembirakan sekali dan sangat berbahaya. Dulu, awal-awal PSBB semua pake masker tapi sekarang turun, semua protokol kesehatan saat ini memburuk dan sangat mengkhawatirkan,” tutur Windhu.
 

Sebab itu menurut dia berdasar hasil kajian epidemologi yang angka penyebarannya (RT) masih satu belum waktunya bagi pemerintah untuk melonggarkan PSBB dan menerapkan New Normal Life di Surabaya Raya.

Windhu menjelaskan, berdasar kasus kumulatif masih terus terjadi penambahan. Bahkan, attack rate di Kota Surabaya sangat tinggi. Bahkan tertinggi secara nasional yakni 93/100 ribu artinya 100 ribu penduduk ada 93 terinfeksi. "Jumlah tersebut sangat tinggi dibandingkan Provinsi DKI Jakarta yang attack rate-nya 70/100 ribu dan Jawa Timur 12/100 ribu," ujarnya.

Tak hanya itu, angka kematian sampai saat ini juga terus bergerak dan masih tetap tinggi yakni mendekati angka 9 persen. “Angka kematian masih tinggi, bahkan lebih tinggi dari angka nasional. Nasional aja 6 persen. Jadi dua hal itu buruk,” tuturnya.

Meski demikian Windhu optimis berdasarkan perhitungan terbaru. Sebab, saat ini angka tingkat penularan (RT) makin turun dari sebelum-sebelumnya, yang kini menyentuh angka satu.

“Rate ini makin turun makin bagus hari ini karena sudah satu, tapi ini belum aman karena berdasar ketentuan WHO harus kurang dari satu dan harus bertahan selama 14 hari apabila ingin menerapkan new normal. Surabaya belum aman, namun kita jadi optimis,” jelas pria yang juga Ketua Departemen Biostatistika dan Kependudukan FKM Unair itu.

Windhu juga mengaku optimis wabah ini dapat ditekan dengan cepat, karena saat ini pemerintah telah melakukan tes cepat di berbagai wilayah. Khususnya di Surabaya Raya yang angka kasusnya tinggi.

Dia menambahkan angka penambahan kasus yang tinggi setiap harinya bukan menjadi satu hal yang harus disesali. Karena itu justru menjadi upaya untuk melakukan penanganan agar dapat menghentikan penyebaran.