Kondisi Langgar KH. Hasan Gipo yang tidak terawat
Kondisi Langgar KH. Hasan Gipo yang tidak terawat

Belakangan ini masyarakat ramai membicarakan tentang keberadaan Langgar Gipo. 

Pasalnya, langgar atau musala yang berada di Kalimas Udik, sekitar kawasan religi Ampel itu memiliki nilai sejarah yang tinggi. 

Tidak hanya sejarah NU karena ada jejak KH. Hasan Gipo, Ketua Umum PBNU pertama, tapi juga bagi bangsa ini. 

Namun, kondisi Langgar Gipo saat ini kurang terawat.

Baca Juga : Pengalaman Artis Ternama saat Manggung di Kota Misterius "Saranjana"

Anik Maslachah, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur menaruh perhatian pada keberadaan Langgar Gipo. 

Menurut kader Muslimat NU ini, bila melihat nilai sejarahnya, Langgar Gipo ini adalah bangunan bersejarah atau bagian dari situs sejarah karena layak dijadikan cagar budaya. 

"Langgar Gipo menjadi tonggak sejarah pengembangan keagamaan, sekaligus ruang diskusi melawan penjajah. Maka sudah sepatutnya Pemerintah Kota Surabaya menjadikannya sebagai cagar budaya," tutur Anik Maslachah, Kamis (18/6). 

Politisi PKB ini mengungkapkan, jejak sejarah bangunan Langgar Gipo begitu tinggi nilainya. 

Mulai sebagai tempat ibadah, ruang diskusi (pengembangan ilmu, sosial, budaya, ekonomi) serta politik (strategi melawan penjajah). 

Bahkan pernah menjadi tempat asrama haji pertama,  sebelum diberangkatkan dengan kapal laut melalui Pelabuhan Tanjung Perak. 

Karena itu, pihaknya berharap pada Pemerintah Kota Surabaya intervensi melakukan revitalisasi dengan memfungsikan kembali Langgar Gipo sebagai tempat ibadah, sekaligus cagar budaya. 

Dengan begitu, dapat menjadi referensi sejarah yang bisa diketahui oleh seluruh masyarakat, sekaligus akan membuka akses perekonomian sekitarnya. 

Baca Juga : Saranjana, Kota Gaib di Indonesia yang Maju dan Modern, Penghuninya Cantik dan Tampan

"Saya kira perlu dilakukan revitalisasi Langgar Gipo agar bisa dipergunakan kembali sebagai tempat ibadah. Sekaligus nantinya menjadi situs sejarah dan destinasi wisata yang nanti pengembangannya bisa sejalan dengan kawasan wisata religi Ampel. Tentunya langkah-langkah itu bisa melibatkan ahli sejarah, pihak pemprov dan juga ahli waris," imbuh Anik. 

Untuk diketahui, Langgar Gipo adalah tempat ibadah yang terdiri dari dua bangunan. 

Lantai satu untuk beribadah, lantai dua digunakan untuk beristirahat maupun menginap. 

Lantai dua ini yang pernah difungsikan sebagai asrama haji, tempat transit calon jamaah haji sebelum berangkat ke tanah suci dengan kapal dari pelabuhan Tanjung Perak.

Di dalam kompleks bangunan yang konon berdiri sejak 1834 ini ada dua sumur besar dengan airnya yang sangat bening. 

Belum lama ini ditemukan bangunan bawah tanah atau bunker yang menghubungkan Langgar Gipo dengan dunia luar. 

Diduga bangunan bawah tanah itu terhubung hingga ke kawasan Jembatan Merah dan sekitar tugu pahlawan. 

Fakta ini menguatkan informasi yang menyebut Langgar Gipo sebagai salah satu markas Laskar Hizbullah NU saat revolusi fisik melawan penjajah.