Ilustrasi
Ilustrasi

Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2019 lalu merilis data akumulatif tahunan mahasiswa dari periode 1997 hingga 2018. Jumlah mahasiswa pada 2018 mencapai 7 juta jiwa.

Rinciannya, ada 4,5 juta mahasiswa berkuliah di perguruan tinggi swasta (PTS) dan sisanya 2,5 juta di perguruan tinggi negeri (PTN). Jumlah mahasiswa itu tumbuh 1,4 persen dari total 6,9 juta jiwa pada 2017 lalu.

Baca Juga : 10 Nyawa Melayang Diduga Depresi, Curhat Pejuang Skripsi: Penuh Tekanan hingga Nyaris DO!

Artinya, pada 2021 mendatang akan ada 7 juta jiwa mahasiswa yang memasuki jenjang akhir dan harus menjadi pejuang skripsi. Menghadapi skripsi, calon-calon sarjana itu pun berhadapan dengan risiko depresi.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejak kurun 2014 ada 10 mahasiswa tingkat akhir yang melayang dengan cara bunuh diri dan diduga akibat depresi mengerjakan skripsi.

Januari-Juli 2020, 3 Nyawa Mahasiswa Melayang Akibat Depresi Kerjakan Skripsi

Juga curhatan mahasiswa yang menyebut bahwa salah satu faktor yang menyebabkan rasa putus asa adalah sulitnya koordinasi dengan dosen pembimbing.

10 Nyawa Melayang Diduga Depresi, Curhat Pejuang Skripsi: Penuh Tekanan hingga Nyaris DO!

Untuk melengkapi liputan khusus ini, YogyakartaTIMES pun sempat mewawancarai dua dosen yang berpengalaman sebagai dosen pembimbing. Mereka punya respons berbeda terkait fenomena peningkatan kasus bunuh diri saat mahasiswa mengerjakan skripsi.

Ahmad Salehudin, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengungkapkan bahwa dalam proses bimbingan skripsi yang selama ini menjadi tanggung jawabnya relatif bervariasi. Ada yang berlarut-larut tidak selesai, tetapi juga ada yang cepat sesuai jadwal.

Menurutnya, bimbingan yang berlarut-larut biasanya disebabkan karena mahasiswa kurang komunikasi dengan dosen pembimbingnya. "Contohnya, ada mahasiwa bimbingan setelah ujian proposal tiba-tiba menghilang. Setelah sekian semester datang lagi dan minta ACC (accedere/persetujuan). Tentu tidak akan langsung di ACC," tutur pria 41 tahun ini.

Hal-hal seperti itu, lanjutnya, yang sering menjadi masalah. "Hal lainnya yang menyebabkan bimbingan berlarut-larut adalah mahasiswa tidak mau mengikuti saran dosen, atau malah konfrontatif," ujar dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam ini.

Ia menjelaskan bahwa bimbingan skripsi itu lebih bersifat personal. Artinya, bimbingan skripsi dimaknai sebagai bagian pembelajaran untuk meningkatkan kualitas mahasiswa yang dilakukan dengan semangat mendidik.

Namun, mungkin bisa saja terjadi atau kasuistik, adanya bimbingan skripsi yang tidak mewadahi semangat atau ruh pendidikan. "Hal ini di antaranya karena mahasiswanya pragmatis, dosennya idealis," sebutnya.

Baca Juga : Januari-Juli 2020, 3 Nyawa Mahasiswa Melayang Akibat Depresi Kerjakan Skripsi

Sementara itu, dosen senior di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakartaa Aden Wijdan menyoroti jika dosen memperlakukan pendidikan cenderung seperti industri, maka hilanglah kasih sayang dan empati.

Aden menilai, fenomena bunuh diri diduga karena skripsi merupakan peristiwa memprihatinkan. "Kasus seperti ini tentu menjadi lembaran hitam dunia pendidikan tinggi. Kejadian bunuh diri karena skripsi sangat spesifik dan perlu pendalaman atas kasus itu, karena gak bisa menyalahkan salah satu pihak," ujar pria 58 tahun ini.

Tidak jarang, lanjutnya, dosen menemukan mahasiswa yang kapasitas dan daya juangnya kurang dalam menyusun skripsi. Pada saat yang sama, tidak jarang juga ditemui dosen pembimbing yang ketat sekali, meletakkan standar tinggi dan tidak mempertimbangkan kapasitas mahasiswanya.

Saat ditanya terkait strategi mengatasi hal tersebut, Aden Wijdan yang menjadi dosen sejak sejak tahun 1990 ini menjelaskan hal yang sangat mendasar adalah mengembalikan "ruh" pendidikan.

Ruh pendidikan yang dimaksud adalah meletakkan posisi mahasiswa sebagi peserta didik sekaligus subjek diidik, jauhkan dari posisi objek didik. "Jadi relasi kuasa mahasiswa dan dosen seimbang dalam mempraktikkan ruh pendidikan itu. Makna lain dari ruh pendiidkan itu ditandai dengan interaksi yang manusiawi, interaksi yang dibimbing oleh nilai kasih sayang, empati, dan simpati," tegas penulis buku Pendidikan Islam dan Peradaban Industrial ini.

Menurutnya, ketika praktik pendidikan disemangati dengan logika industri, dimediasi dengan teknologi, maka nilai ruh itu jadi defisit bahkan hilang. Nilai intimasi menjadi sirna. "Yang semakin menguat adalah kepentingan pasar, dan ketika kepentingan pasar yang menguat, itu artinya pendidikan mengabdi pada kepentingan pemodal," paparnya.

Ketika ditanya apakah kebijakan skripsi menjadi syarat kelulusan perlu diubah? Aden Wijdan menjelaskan dalam masa wabah seperti ini bisa saja skripsi boleh diganti artikel.

Hal ini karena kesempatan pencarian data memang terhambat, akses ke sumber data sangat terbatas. "Namun, hemat saya wacana mengganti skripsi dengan artikel tidak berhubungan langsung dengan ditemukannya korban bunuh diri karena proses penyusunan skripsi," tambahnya.

Lantas seperti apa pandangan psikolog atas fenomena bunuh diri gara-gara skripsi ini? Simak dalam rangkaian lapsus berikutnya.