Potret salah satu pengunjung wisata Air Terjun Coban Jahe dengan kelengkapan protokol kesehatan Covid-19. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Potret salah satu pengunjung wisata Air Terjun Coban Jahe dengan kelengkapan protokol kesehatan Covid-19. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

Sektor pariwisata di Kabupaten Malang mulai pertengahan tahun 2020 ini tepatnya pada Juli hingga Agustus mulai memasuki era transisi new normal, yang sebelumnya sempat tertutup akibat pandemi Covid-19.

Era transisi new normal tersebut menyebabkan seluruh tempat wisata di Kabupaten Malang berlomba-lomba untuk melengkapi protokol kesehatan Covid-19 agar dapat buka dengan resmi seluruhnya. 

Baca Juga : Wisata Banyu Anjlok Masuk Nominasi API Awards, Disparbud Berharap yang Terbaik

Protokol kesehatan Covid-19 yang harus dilengkapi tersebut merupakan ketetapan dari Sub Satuan Tugas (Satgas) Wisata, Hotel dan Restoran dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang.

Salah satunya wisata Air Terjun Coban Jahe yang terletak di Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang telah mulai melengkapi protokol kesehatan di area wisatanya. 

Kepala Disparbud Kabupaten Malang, Made Arya Wedanthara juga menjelaskan bahwa kelengkapan protokol kesehatan merupakan syarat utama untuk setiap pembukaan tempat wisata di Kabupaten Malang.

"Melengkapi protokol kesehatan yang telah ditetapkan untuk persyaratan awal dibukanya tempat wisata. Setelah itu pengelola dapat mengajukan permohonan pembukaan wisata," jelasnya ketika dikonfirmasi pewarta beberapa waktu lalu. 

Salah satu protokol kesehatan Covid-19 yang wajib dipenuhi oleh pengelola tempat wisata yakni ruang observasi untuk para pengunjung yang memiliki suhu awal di atas 37,3 derajat celcius. 

Terkait infrastruktur akses jalan sendiri, Made berharap di beberapa tempat wisata yang ada di Kabupaten Malang, salah satunya Coban Jahe agar segera dilakukan perbaikan. 

"Inginnya segera menjadi baik jalannya menuju tempat wisata," ujarnya kepada pewarta, Minggu (9/8/2020). 

Terkait target untuk pembenahan infrastruktur akses jalan menuju tempat wisata, Made mengatakan bahwa hal tersebut merupakan skala prioritas yang akan disegerakan untuk masuk di pengajuan anggaran tahun 2021.

"Udah kami koordinasikan, itu termasuk skala prioritas dan masuk anggaran tahun depan (2021, red)," sebutnya. 

Made pun membenarkan bahwa untuk infrastruktur akses jalan menuju tempat wisata yang nantinya masuk skala prioritas terdapat dua tempat wisata yakni dari wisata pantai dan air terjun. 

Sementara itu, ditemui secara terpisah pihak pengelola tempat wisata Air Terjun Coban Jahe, Hadi Suyitno menjelaskan bahwa pihaknya secara bertahap telah melakukan pemenuhan protokol kesehatan Covid-19 sesuai arahan pemerintah.

"Seperti tempat cuci tangan, banner peringatan Covid-19 dan mewajibkan wisatawan menggunakan masker. Bangku tempat duduk juga diberi jarak," jelasnya ketika ditemui awak media. 

Sampai saat ini, wisata Coban Jahe masih belum dibuka untuk umum. Hadi mengatakan bahwa selain melengkapi protokol kesehatan juga sedang melakukan pembenahan fasilitas dan melakukan pembersihan area tempat wisata. 

Baca Juga : Berburu Sunset di Puncak Ratu, Menikmati Panorama Alam Pamekasan dari Ketinggian 800 Mdpl

"Sekarang masih uji coba, jadi sambil menunggu izin pembukaannya secara resmi kami lakukan pembersihan dan perbaikan disini (Coban Jahe, red)," ungkapnya. 

Lebih lanjut Hadi menuturkan bahwa pandemi Covid-19 membuat para pekerja di wisata Air Terjun Coban Jahe yang berjumlah 40 orang tersebut tidak dapat bekerja secara maksimal. 

Karena mayoritas merupakan warga sekitar kawasan wisata yang hanya menggantungkan hidupnya dengan menjadi pekerja di wisata Air Terjun Coban Jahe.

Akhirnya Hadi memutar otak untuk mengarahkan 40 pekerjanya agar dapat terus bekerja sehingga dapat memberikan nafkah ke keluarganya masing-masing.

"Seperti penjaga loket, kini mereka harus tanam bunga. Selain itu ada yang mencangkul. Mending begitu dari pada nggak dapat penghasilan sama sekali," ungkapnya. 

Hadi pun menyebutkan nominal upah yang diberikan kepada para pekerja, satu orang mendapatkan upah sekitar Rp 35 ribu untuk sekali kerja dalam rentan waktu setengah hari. 

"Ini pekerjanya di dominasi para perempuan. Mulai menanam bunga sampai mencangkul," ujarnya. 

Untuk menghidupi para pekerja yang masih menggantungkan hidupnya dengan hasil pengelolaan wisata Air Terjun Coban Jahe, Hadi mengungkapkan bahwa dirinya hanya mengandalkan kuliner untuk langkah operasional. 

"Jadi ada kuliner bakso dan cemilan lainnya. Pengunjung yang baru datang langsung di berikan voucher dan diwajibkan untuk beli makan di sini," jelasnya. 

Hasil dari penjualan kuliner tersebut selain digunakan untuk kebutuhan operasional, juga digunakan untuk peremajaan sarana dan prasarana agar tetap berfungsi meskipun sedang sepi pengunjung yang turun drastis sejak adanya pandemi Covid-19.

"Dulu sebelum pandemi saat akhir pekan ada 2.500 sampai 3.000 pengunjung. Sekarang hanya 100 an saja," pungkasnya.