Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Nama Umair bin Saad tentu tak asing di telinga umat muslim. Dia adalah salah satu sahabat terbaik Rasulullah SAW yang mulia. Selain itu, Umair juga dikenal sebagai sosok pemimpin atau gubernur terbaik di masa Khalifah Umar bin Khattab.

Kisah luar biasa dari gubernur terbaik sepanjang masa itu pun tercatat dengan indah dalam balutan sejarah Islam. Kisahnya inspiratif itu ditunjukkan Umair ketika ia diperintahkan Umar untuk menjadi Gubernur di daerah Hims, Sarah satu kawasan di Negeri Syam.

Baca Juga : Ketika Rasulullah SAW Terlambat Melakukan Salat Subuh, Begini Kisah Lengkapnya

Ustadz Khalid Basalamah dalam sebuah kajian menyampaikan, sebelum dipimpin Umair, gubernur di kawasan Hims selalu berganti dalam waktu yang singkat. Masyarakatnya terbilang sangat suka mengeluh. Setiap kali ada gubernur yang diutus memimpin daerah tersebut, selalu tak lama.

Sampai pada akhirnya Umar menyampaikan jika ia menginginkan pemimpin yang tegas, berilmu, dan membuka pintu rumahnya selalu untuk orang yang mengeluh. Maka pilihan mengerucut pada Umair bin Saad. Saat itu Umair sedang berjihad, maka dia dipanggil dan diminta untuk menjadi gubernur di salah satu wilayah di Negeri Syam tersebut.

Saat itu Umair menolak dan memilih menjadi pasukan jihad. Namun Umar menegaskan agar ia menjadi gubernur. Maka Umair menerima perintah dari Umar.

Satu tahun pertama Umair memimpin, tak ada gejolak. Lantaran Umair memilih tinggal di rumah sangat sederhana yang ia bangun dengan uangnya sendiri. Dia tak menggunakan fasilitas layaknya gubernur pada umumnya, dan dia selalu membuka rumahnya untuk masyarakat yang ingin mengeluh.

Di rumahnya hanya ada ember untuk mandi dan panci untuk masak, dan selalu berjalan kaki. Dia tak memiliki keledai sama sekali. Sampai satu tahun lamanya, Umair tak memberi laporan kepada Umar tentang daerah yang dipimpinnya.

Maka Umar mengirimkan surat kepada Umair dan memanggilnya untuk kembali ke Makkah. Umair menghadap dan saat hendak kembali ke Madinah, Umair menghibahkan rumahnya untuk orang miskin. Umair kembali ke Madinah dengan jalan kaki dan begitu sampai ke Madinah langsung menghadap ke Umar.

Melihat kondisi Umair yang sangat lusuh dan kecapekan lantaran berjalan kaki, Umar pun sangat kaget. Umar kemudian bertanya hasil negaranya dari ia memimpin Kota Hims tersebut.

Umair kemudian menunjukkan ember dan panci yang ia gunakan untuk keperluannya selama menjadi gubernur. Dia juga tak menerima hadiah apapun dari masyarakat yang ia pimpin selama satu tahun lamanya.

Melihat sikap Umair yang luar biasa, Umar kemudian meminta agar kepemimpinan Umair diperpanjang lagi. Namun Umair menolak permintaan itu, dan meminta untuk bisa tinggal di pinggiran Kota Madinah bersama dengan anak dan istrinya. Khalifah Umar pun menyetujui permintaan Umair tersebut.

Nampaknya, Khalifah Umar saat itu belum mempercayai secara penuh dengan apa yang disampaikan Umair. Maka Umar mengutus seseorang untuk melihat kondisi rumah Umair.

Baca Juga : Rasulullah Ungkap Rahasia Anak Lebih Mirip Ayah atau Ibunya, Kuncinya di Ejakulasi

Maka pergilah utusan itu. Tanpa disangka, Umair yang membuka pintunya di pagi hari mempersilahkan utusan Umar untuk masuk dan makan bersamanya. Karena hal itu memang merupakan kebiasaan dari keluarga sederhana Umair.

Di mana setiap paginya, Umair dan istrinya selalu memberikan makanan kepada siapapun yang lewat di depan rumahnya. Utusan Khalifah Umar pun tinggal di rumah Umair sampai tiga hari lamanya. Dia tak melihat harta duniawi kecuali gandum dan kurma.

Selama tiga hari, Umair memperlakukan tamunya tersebut begitu mulia. Seluruh makanan yang ada disuguhkan. Hingga membuat Umair beserta anak dan istrinya merasa kelaparan.

Maka di hari ke tiga, Umair menyampaikan jika ia sudah tak memiliki makanan. Umair meminta tamunya untuk menginap di rumah muslim lainnya, lantaran kondisinya yang sudah tak memiliki apa-apa.

Utusan Khalifah Umar itu pun kemudian menyampaikan jika ia datang diutus oleh Umar bin Khattab. Dia menyerahkan uang seribu dinar. Umair menolak pemberian itu karena merasa tidak membutuhkan uang tersebut.

Maka sang istri berkata dari dalam rumah dan meminta Umair menerima uang tersebut untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Sang istri kemudian melemparkan kain lusuh untuk menerima uang pemberian Khalifah Umar tersebut.

Saat itu juga, Umair berkeliling di sekitar rumah dan kebunnya. Umair membagikan uang pemberian Khalifah Umar tersebut dengan tak disisakan satu dirham pun. Utusan Khalifah Umar melihat langsung yang dilakukan Umair. Kemudian melaporkan itu kepada Khalifah Umar, hingga membuat Umar begitu sangat kagum. Umair pun kemudian dikenal sebagai gubernur terbaik yang sangat sederhana.