Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Berbagai amalan zikir yang disampaikan Rasulullah SAW tentu memiliki keutamaannya masing-masing. Salah satunya adalah keutamaan mengucapkan kalimat zikir yang ampuh menyembuhkan 99 jenis penyakit.

Kalimat zikir itu adalah 'La hawla wa la quwwata illa billah'. Dalam riwayat sahih disebutkan jika kalimat zikir tersebut mampu menyembuhkan segala jenis penyakit, dan yang paling rendah adalah demam. 

Baca Juga : Kisah Dua Utusan Allah SWT yang Menolak Diberi Umur Panjang

Bahkan ulama mengatakan, orang yang yakin dengan zikir tersebut tidak membutuhkan resep dokter.

Ustadz Khalid Basalamah dalam sebuah kajian menyampaikan, amalan zikir tersebut sangatlah luar biasa untuk bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kisah mengenai keutamaan berzikir tersebut bahkan sudah dijelaskan dalam Al-Quran yaitu QS at-Taubah ayat 2 dan 3.

Ustadz Khalid menjelaskan, bahwasannya ayat dalam QS at-Taubah tersebut turun lantaran kisah yang dialami Auf dan anaknya Malik, sahabat Rasulullah SAW.

Kisah bermula saat Malik ikut bersama Rasulullah SAW dalam berperang. Sebelum berperang, Malik meminta izin kepada kedua orangtuanya. Ayah dan ibu Malik berharap Malik mati secara syahid.

Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah saat usai berperang, maka Rasulullah SAW mengecek pasukannya di depan masjid. Sehingga Rasulullah SAW mengetahui berapa yang sakit dan meninggal. Maka yang tidak ditemukan saat itu adalah Malik.

Maka Auf berkata, “Ya Rasulullah SAW, semua pasukan pulang. Tinggal Malik, anak saya. Beritahukan kepada saya, agar saya bisa beritahukan kepada ibunya tentang keadaannya. Kalau Malik mati syahid, itu yang kami harapkan. Tapi kalau Malik tidak mati syahid ya Rasulullah SAW, maka beritahulah kami. Apakah dia ditawan musuh atau sakit di tengah jalan?”

Maka Rasulullah SAW tak menjawabnya hingga wahyu dari Allah SWT turun. Lalu Rasulullah SAW berkata, "Hai Auf, pulanglah. Dan aku wasiatkan kepadamu agar engkau dan istrimu sejak engkau sampai rumah hingga malam nanti mengucapkan kalimat zikir (La hawla wa la quwwata illa billah)."

Tanpa banyak bertanya, Auf pulang. Saat sampai di rumah, sang istri bertanya dan Auf menyampaikan apa yang disampaikan Rasulullah SAW tersebut. Maka keduanya mengamalkan zikir sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW.

Bahkan keduanya tak makan dan minum. Namun melakukan zikir dengan keyakinan dapat menerima informasi mengenai anaknya. Hingga malam hari, keduanya tertidur. Dan saat terlelap, dia tiba-tiba mendengar seseorang mengetuk pintunya. Saat dibuka, ternyata dia adalah sang anak, Malik yang membawa beberapa ekor kambing.

Baca Juga : Gubernur Terbaik Sepanjang Masa, Sahabat Terbaik Rasulullah SAW

Auf pun bertanya apa yang sebenarnya terjadi kepada anaknya tersebut. Maka Malik menjawab, “Hai ayahku, demi Allah, aku telah ditawan oleh musuh. Tangan dan kakiku diikat dengan rantai yang besar serta mata rantai kecil yang membuatku susah bergerak. Mereka menyiksaku dan aku berusaha melepaskan rantai. Entah dengan pertolongan Allah, mata rantai menjadi besar. Sehingga membuat saya bisa melepaskan ke dua tangan dan kaki saya. Lalu saya bawa beberapa domba musuh yang saya niatkan sebagai harta rampasan perang, dan buktikan kepada Rasulullah bahwa saya selamat. Dan ini adalah domba musuh dan saya bawa ke sini.”

Auf kemudian kembali bertanya mengenai bagaimana cara sang anak kembali ke Madinah. Karena perjalanan yang ditempuh Rasulullah SAW sebelumnya bersama pasukan hingga kembali ke Madinah adalah selama dua hari.

Malik pun menjawab, “Demi Allah ayahku, pada saat aku berniat untuk pulang ke Madinah, saya merasa seperti ada Malaikat yang menebahkan sayapnya dan membawaku ke Madinah bersama dengan kambing-kambing ini.”

Singkat cerita, anak dan kedua orang tua itu saling bercerita dan melepaskan kerinduan. Lalu ketiganya menuju masjid keesokan harinya.

Pada saat mereka tiba, dan belum bercerita apapun, Rasulullah SAW berkata, “Ketahuilah. Terimalah berita baik wahai Auf dan Malik. Allah telah turunkan Al-Qur'an yang berhubungan dengan urusan kalian. Karena perilakumu mengamalkan dzikrullah ini, Allah SWT menurunkan ayat.”

Ayat itu adalah QS at-Taubah ayat 2 dan 3. Dalam akhir ayat 2 dijelaskan jika siapapun yang bertakwa kepada Allah SWT, maka ia akan mendapatkan jalan keluar atas permasalahannya dari Allah SWT. Dan Allah berikan rezeki dari tempat yang tak disangka, serta mengembalikan perkara kepada Allah SWT. Allah SWT pasti membuktikan janji-janji, dan Allah SWT memiliki kadar-kadar.

Kisah di balik turunnya ayat tersebut menurut Ustadz Basalamah sangatlah luar biasa. Sehingga bisa menjadi contoh bagi umat muslim saat menemukan sebuah permasalahan dengan selalu zikir kepada Allah SWT.