Puan Maharani (Foto:  Harianhaluan.com)
Puan Maharani (Foto: Harianhaluan.com)

Pernyataan Ketua Bidang Politik dan Keamanan DPP PDIP Puan Maharani mendadak membuat heboh dan mengundang tanya. Pernyataan itu disampaikan Puan saat acara pengumuman cagub-cawagub Sumatera Barat.  

Di sela-sela acara pengumuman, Puan menyampaikan harapan. Dia berharap agar Sumatera Barat bisa menjadi provinsi yang mendukung negara Pancasila.  

Baca Juga : Rekomendasi PDI P Diberikan ke Salam-Ifan, Pilkada Jember akan Diramaikakn Tiga Calon

 

"Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang memang mendukung Negara Pancasila," begitu harapan Puan.

Pernyataan itu lantas dipertanyakan oleh anggota DPD RI asal Sumbar Alirman Sori. Ia mempertanyakan apa dasar Puan berharap Sumbar mendukung negara Pancasila.  

"Saya balik bertanya, apa dasarnya Puan Maharani menyebut semoga Sumbar menjadi pendukung Pancasila," cetus Alirman.

Terkait hal itu, Alirman menilai jika Pancasila sudah final. Ia lantas menegaskan, hal itu tidak ada sangkut pautnya lagi dengan daerah.  

"Tak perlu ada lagi sikap mempertanyakan suatu daerah pendukung Pancasila," ungkapnya.

Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari Puan, terkait apa yang disampaikannya. Namun, soal penyataan yang menjadi polemik ini, Puan Maharani pun didesak untuk meminta maaf.  

Baca Juga : Bawaslu Beri Catatan Simulasi Pendaftaran Paslon Bupati-Wakil Bupati Banyuwangi

 

Hal itu disampaikan oleh jubir Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Handi Risza. "Kami minta Mbak Puan mencabut pernyataan dan meminta maaf ke seluruh masyarakat Sumatera Barat," ungkap Handi.  

"Khususnya kepada keluarga besar founding father bangsa ini," lanjutnya melalui keterangan tertulis.  

Handi lantas menegaskan jika Puan seharusnya tak perlu meragukan nasionalisme masyarakat Sumbar yang telah berjuang melahirkan Pancasila dan berkorban bagi keutuhan NKRI.

Bahkan, ia menyebut sebagai Ketua DPR, Puan seakan lupa terhadap sosok pendiri bangsa dan penggagas Pancasila yang berasal dari Sumbar seperti Bung Hatta, Tan Malaka dan Sutan Syahril.