Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Dalam sebuah riwayat, dikisahkan jika Rasulullah SAW pernah didatangi oleh seorang perempuan yang mengaku telah berzina. Perempuan pezina itu datang dan meminta agar Rasulullah SAW memberi hukuman dengan cara dirajam atau melempari perempuan tersebut dengan batu.

Namun, Rasulullah SAW tak menerima permintaan dari perempuan tersebut. Meski pada akhirnya Rasulullah SAW mengabulkan permintaan hukuman rajam tersebut, Rasulullah SAW tetap mengingatkan para sahabat untuk tidak melaknat perempuan itu.

Baca Juga : Kepada Sahabat Nabi Ini, Iblis pun Harus Berbuat Baik Mengantarkan ke Masjid Tiap Hari

Ustadz Khalid Basalamah dalam sebuah kajian menyampaikan, Rasulullah SAW mengajarkan jika hukum dalam Islam berlaku bagi orang yang kepergok dan tidak berlaku bagi orang yang sudah bertaubat. Itu yang terjadi pada perempuan yang meminta dirajam Rasulullah SAW tersebut.

Perempuan yang mendatangi Rasulullah SAW Itu berkata, “Ya Rasulullah SAW, saya sudah berzina dan saya hamil karena berzina.”

Maka Rasulullah SAW menjawab, “Kau sedang hamil, pulanglah dan melahirkan anak itu.”

Para ulama menafsirkan jika Rasulullah SAW meminta perempuan itu pulang dan bertobat. Melindungi diri di bawah naungan Allah SWT, karena dalam Islam dosa harus ditutupi.

Perempuan itu pada akhirnya pulang. Saat selesai melahirkan, ia kembali ke Rasulullah SAW dan meminta untuk dirajam. Namun, Rasulullah SAW meminta agar perempuan itu kembali pulang dan menyusui anaknya. Setelah dua tahun, perempuan itu kembali untuk meminta dirajam, maka Rasulullah SAW mengabulkan itu.

Saat sedang dilempar batu, seorang sahabat berkata agar perempuan itu dilaknat karena perbuatan dosanya.

Maka Rasulullah SAW berkata, “Jangan kau laknat dia. Demi dzat yang ubun-ubunnya Muhammad dalam genggaman-Nya, dia telah bertobat kalau dibagi untuk 70 orang penduduk Madinah, cukup bagi mereka untuk masuk surga.”

Baca Juga : Kelicikan Iblis, Sembunyikan Niat Buruk di Balik Kebaikan Saat Beri Pertolongan pada Pria Tua Tunanetra

Rasulullah SAW meminta umatnya bertobat dan menutupi dosanya. Karena hukum dalam Islam berupa cambukan hingga rajam berlaku bagi mereka yang terpergok melakukan dosa.

Rasulullah SAW berkata, “Orang yang paling buruk di sisi Allah SWT adalah orang yang sudah ditutupi kesalahannya lalu dia sendiri yang menyampaikan beritanya kepada orang lain.”

Ustadz Khalid menegaskan, hukuman merupakan shock terapi agar yang telah melakukan dosa bisa bertobat. Sehingga, umat muslim harus menutupi semua dosa dan aibnya, lalu bertobat kepada Allah SWT. Karena setiap dosa yang dilakukan tak pernah luput dari Allah SWT.

Bahkan ulama menyampaikan jika seorang suami tidak boleh bertanya kepada istrinya apakah pernah berzina sebelum menikah. Apabila ada suami atau istri yang bertanya tentang itu, maka tidak perlu dijawab. Karena tidak ada dosa yang luput dari Allah SWT. Namun jika ada sesuatu yang salah di depan mata, harus diingatkan.

"Dan yang menjatuhkan hukum qishash hanyalah pemerintah setempat. Tenangkan pikiran dan perbanyak ibadah. Menuduh seseorang tidak benar itu sangat tidak dibenarkan dalam Islam. Maka lebih baik berdiam dan tidak ikut campur serta menuduh seseorang itu salah," jelas ustadz Khalid.