Abdullah Sahuri saat tampilkan hasil karya keduanya (Foto: Istimewa)
Abdullah Sahuri saat tampilkan hasil karya keduanya (Foto: Istimewa)

Menulis bukanlah kegiatan yang mudah, melainkan butuh keahlian, kecerdasan dan ketekunan. Tidak sedikit waktu yang harus disisihkan dan kefokusan dalam melakukan kegiatan menulis. Apalagi menulis hingga menjadi sebuah karya buku.

Namun hal itu mampu dilakukan oleh sosok pemuda yang sekaligus berprofesi sebagai kuli bangunan yang juga mahasiswa.

Baca Juga : Bertalenta, Pemuda 23 Tahun Ini Sudah Jadi Asisten Marcom Manager HARRIS Hotel & Conventions Malang

Dia adalah Abdullah Sahuri, pemuda asal Desa Daleman, Kecamatan Galis, Bangkalan, Madura, yang saat ini kembali mempersembahkan karya keduanya yakni sebuah karya novel berjudul “Kisah di Balik Cerita.” Menyusul karya pertamanya yaitu sebuah buku dengan judul “Aku Malas Membaca.”

Pemuda yang akrab disapa Aab itu, lahir di Bangkalan tepatnya 5 Juni 1997. Dia adalah sosok pemuda yang sangat pantas dijadikan tokoh inspiratif bagi pemuda masa kini. Sebab sekalipun ia sebagai seorang kuli bangunan dan menjalani hidup tanpa seorang ayah. Namun, ia mampu memberikan sumbangsih karya di dunia literasi bangsa ini dan terbilang produktif.

Meski dirinya dilahirkan di lingkungan serba kekurangan, namun tidak mematahkan semangatnya untuk selalu merasa optimis, bahwa keadaan sulit tidak menjadi penghalang untuk berkarya.

"Saya memang anak desa, mas. Dan saya orang miskin. Tapi saya optimis, kalau itu bukan penghalang untuk berkarya meskipun anak desa," ungkap Aab seraya sambil tersenyum kepada BangkalanTIMES.com, Selasa (24/11/2020).

"Bahkan mas, meski kita anak desa kita harus memiliki pemikiran yang mendunia. Caranya ya membaca dan menulis, semua bergantung orangnya juga mas," lanjutnya.

Tidak hanya itu, pria berwajah tampan itu menjelaskan, terkait alasannya aktif di dunia kepenulisan. Baginya, hal itu tidak terlepas dari rasa nasionalismenya terhadap bangsa. Sebab saat bangsanya sedang mengalami banyak krisis, khususnya di bidang literasi dan Indeks Pembangunan Manusianya (IPM).

Baca Juga : Dinda, Orator Cantik yang Viral saat Demo Tolak UU Cipta Kerja di Sumenep

"Sederhana mas, ada banyak penelitian kelas dunia yang menyatakan IPM kita rendah. Ya, itu, saya kan bagian dari bangsa ini. Makanya saya nulis," ujarnya.

Diapun bersyukur, karyanya dapat disambut baik oleh banyak kalangan dan juga berharap dapat menjadi inspirasi bagi orang lain, terkhusus bagi anak muda yang senasib dan sepenanggungan.

"Terimakasih banyak buat semuanya, dukungan kalian adalah semangat saya. Spesial buat keluarga, ibu, dan almarhum ayah. Saya sekarang jadi penulis," tutupnya.