Singapura Bakal Anggap Covid-19 Sebagai Endemik, Pakai Alat Canggih ini untuk Deteksi Warga yang Terpapar Covid-19 | Bangkalan TIMES

Singapura Bakal Anggap Covid-19 Sebagai Endemik, Pakai Alat Canggih ini untuk Deteksi Warga yang Terpapar Covid-19

Jun 30, 2021 15:26
Singapura (Foto: Anadolu Agency)
Singapura (Foto: Anadolu Agency)

INDONESIATIMES - Pemerintahan Singapura menyatakan bahwa pandemi Covid-19 akan mereda. Kendati demikian, pandemi tersebut tidak akan bisa hilang. 

Untuk itu, warga diharap belajar untuk melanjutkan hidup meski virus Covid-19 masih ada di tengah masyarakat. Lantas apa yang dipersiapkan Pemerintah Singapura untuk menuju New Normal? 

Baca Juga : Honda City Hatchback Hybrid Resmi Meluncur di Thailand

Melansir melalui tayangan Kompas TV pada Selasa (29/6/2021) malam, Duta Besar Indonesia Singapura Suryopratomo memberikan pernyataannya. Dalam tayangan tersebut, pembawa acara Aiman Witjaksono menanyakan terkait kebenaran bahwa Singapura akan bersiap menjadikan Covid-19 sebagai endemik. 

"Jadi benar pemerintah Singapura  akan menganggap Covid-19 layaknya flu biasa?" tanya Aiman. 

Menjawab pertanyaan Aiman itu, Suryo mengatakan bahwa Singapura memang harus bersiap seperti apa yang dikatakan oleh Perdana Menteri. 

"Jadi kalau kita lihat Singapura sebetulnya kasusnya itu terus menurun sehingga kemudian ada semacam euforia, bahkan pemerintah pun membuka kelonggaran bahkan 8 orang pergi bersama dan kemudian makan bersama," ujarnya. 

Namun, pada Mei ditemukan varian baru yakni Covid-19 varian Delta. Hal itu membuat pemerintah kembali memberlakukan pembatasan dengan melarang warganya makan di luar dan beberapa tempat ditutup. 

Hingga akhirnya muncul pertanyaan dari masyarakat Singapura 'sampai kapan ini?'. 

"Lah ini yang sebetulnya yang disampaikan oleh perdana menteri, para menteri itu adalah jawaban terhadap pertanyaan masyarakat. Jawabannya adalah suatu saat nanti setelah WHO mencabut status pandemi bukan berarti Covid tidak ada. Covid-19 akan ada menjadi endemik tetapi kita harus tetap menjalankan protokol kesehatan," tegasnya. 

Lebih lanjut, Suryo mengatakan bahwa Singapura tetap ada persiapan yang dilakukan seperti vaksin. Kemudian, jika masyarakat merasa kondisi tubuhnya tidak enak bisa melakukan tes sendiri. 

"Jadi sekarang ini sudah mulai orang itu kalau merasa badannya tidak enak itu dimungkinkan untuk melakukan tes sendiri. Bahkan alat tes tersebut sudah dijual di apotek," tutur Suryo.

Selain itu, Suryo menyatakan bahwa di Singapura menggunakan digital tracing yakni Trace Together. "3 hal yang diterapkan Perdana Menteri Singapura, digital tracing, testing, dan treatment (vaksinasi)," tegas Suryo. 

Dijelaskan pula oleh Suryo bahwa setiap warga Singapura harus membawa digital tracing tersebut. 

"Digital tracing ini disetting oleh pemerintah Singapura, pendekatan dengan menggunakan bluetooth karena yang melakukan itu kalau orang berdekatan dengan orang yang positif dengan jarak kurang dari 2 meter minimal 15 menit," jelasnya. 

Tentang TraceTogether

Baca Juga : Destinasi Wisata di Tulungagung Tutup, Jika Ada Perintah dari Gugus Tugas Covid-19

Melansir melalui Reuters, aplikasi TraceTogether akan bekerja dengan menukar sinyal Bluetooth jarak dekat untuk mendeteksi pengguna lain yang berada dalam jarak sekitar 2 meter. Data pelacakan akan disimpan di penyimpanan lokal ponsel dan dilindungi enkripsinya.

Aplikasi tidak akan meminta informasi lainnya, seperti lokasi pengguna. 

"Sistem ini menjaga privasi pengguna dari pengguna satu sama lain," ujar Menteri Senior Bidang Komunikasi Singapura, Janil Puthucheary. 

Namun, pengguna harus mengirim data jika pihak Kementerian Kesehatan Singapura memintanya untuk proses pelacakan. Pelacak kontak secara resmi akan memberikan kode yang dapat dicocokkan pengguna dengan kode verifikasi yang sesuai pada aplikasi mereka.

Setelah dikonfirmasi, pengguna akan diberikan PIN yang memungkinkan pengiriman data saat dimasukkan. Pelacak kontak juga tidak akan meminta rincian keuangan pribadi atau meminta transfer uang melalui telepon. 

Saat dihubungi oleh pelacak kontak, hal itu adalah ketika pengguna akan diminta untuk membagikan data mereka. Jika mereka menolak, mereka dapat dituntut berdasarkan Undang-Undang Penyakit Menular. 

Meskipun penggunaan aplikasi ini tidak wajib, mereka yang menggunakannya harus mengaktifkan pengaturan Bluetooth di ponsel mereka agar penelusuran dapat dilakukan. Pengguna juga harus mengaktifkan pemberitahuan dan izin lokasi di aplikasi yang dapat diunduh di Apple App Store atau Google Play store tersebut. 

"Ini sangat berguna dalam kasus-kasus di mana orang-orang yang terinfeksi tidak mengenal semua orang yang dekat dengan mereka untuk waktu yang lama," kata pengembang. 

Jika salah satu dari pengguna ini terinfeksi, Kementerian Kesehatan akan dapat dengan cepat mengetahuinya. Hal itu juga memungkinkan identifikasi kasus yang lebih mudah dan membantu untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 di Singapura. 

Di situs webnya, pengembang TraceTogether, menyebutkan, dengan berjalannya aplikasi sepanjang waktu tidak akan menguras baterai ponsel secara signifikan. Satu-satunya data yang dikumpulkan oleh Pemerintah Singapura melalui aplikasi ini adalah nomor ponsel pengguna.

Dengan cara ini, pemerintah bisa menghubungi pengguna dengan cepat jika mereka berada di dekat kasus yang terinfeksi. Aplikasi ini juga tidak mengumpulkan atau menggunakan data lokasi pengguna, tetapi hanya mencatat siapa yang dekat dengan mereka.

Topik
Pandemi Covid 19 SINGAPURA singapura endemik covid 19 singapura endemik covid 19

Berita Lainnya