Jatim Times Network Logo
08/02/2023
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Wisata

Magnet Pariwisata Jatim, Baru Buka di Masa Pandemi dan Optimis Tetap Bisa Bangkit

Penulis : M. Bahrul Marzuki - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

26 - Sep - 2022, 08:52

Batu Love Garden, Salah Satu Destinasi Wisata Baru di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur
Batu Love Garden, Salah Satu Destinasi Wisata Baru di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur

JATIMTIMES - Sedang musim liburan dan Anda mencari tempat destinasi wisata? Jawa Timur rasanya adalah tempat yang cocok untuk dituju.

Berada di tengah Indonesia secara geografis dan memiliki satu bandara Internasional serta empat bandara domestik Jatim memiliki banyak andalan tempat wisata. Berupa destinasi wisata alam maupun buatan, atau yang memadukan keduanya.

Baca Juga : Gubernur Khofifah Blusukan ke Pasar untuk Pastikan Harga Bahan Pokok Tetap Stabil

Pengelola-Batu-Love-Garden-optimis-di-masa-mendatang-akan-jadi-salah-satu-tempat-destinasi-wisata-andalan-di-Jatim-C0998e79a46a47f57.jpg

Data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim tempat wisata di wilayah paling timur Pulau Jawa ini kini tumbuh total menjadi 1.316 DTW (Daya Tarik Wisata) pada tahun 2022. Padahal sebelumnya pada tahun 2019 atau awal masa pandemi Covid-19 tercatat ada 969 DTW.

Dengan rincian 449 wisata alam. Kemudian 513 wisata buatan serta 355 wisata budaya. Dan selama dua tahun terakhir ini wisata buatan di Jatim mendominasi dengan tumbuh baru sebanyak 211 DTW, sedangkan yang alam sebanyak 62 DTW.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim Sinarto meyampaikan jenis daya tarik wisata menurut 
preferensi dan permintaan di Jawa Timur
diidominasi oleh empat kategori. Yaitu, wisata alam, wisata buatan, wisata budaya dan wisata minat khusus atau adventure.

"Alam didominasi oleh pemuda, wisatawan mancanegara dan umum. Biasanya ke arah taman nasional, pantai, gunung, sungai, air terjun dan lainnya," ujar dia.

Sementara untuk wisata buatan menurutnya didominasi oleh tipe family, friend dan pelajar. Dan biasanya mengarah ke Malang serta Batu seperti ke tempat Jatim Park Group.

Sedangkan untuk wisata budaya dapat dikategorikan ke sejarah, religi, desa wisata, kuliner, dan belanja. Dengan didominasi orang tua dan pelajar sebagai wisatawan domestiknya. Contoh tujuannya adalah seperti makam Wali Limo yang tersebar di Jatim, makam Gus Dur di Jombang, serta Trowulan yang ada di Mojokerto.

Terakhir untuk minat khusus atau adventure lebih ke arah Sport Tourism. Seperti halnya kegiatan Hiking, Diving, Surving, Snorkeling, Rafting, Caving, Running, Down Hill Biking, Climbing, dan lainnnya juga. "Didominasi oleh  wisatawan mancanegara dan  domestic kalangan tertentu," imbuh Sinarto.

Untuk tempat wisata yang baru buka bersamaan dengan datangnya masa pandemi Covid-19 ini salah satunya di Jatim adalah Batu Love Garden (Baloga) pada tahun 2019. Baloga berada di Jalan Raya Pandanrejo No 91, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ini menawarkan perpaduan wisata buatan dengan alam.

Tempat wisata yang masih bagian dari Jatim Park Group ini menyuguhkan beragam jenis bunga. Terdapat 600 jenis bunga di lokasi dan 30 persen dari macam-macam jenis bunga itu berasal dari luar negeri, seperti jenis bunga petunia yang didatangkan dari Amerika Serikat.

Manajer Operasional Batu Love Garden, Tossy Kusdianto menyampaikan pihaknya tetap memilih nekat buka meskipun di masa pandemi Covid-19 dulunya. "Dengan harapan bahwa masyarakat tetap haus akan hiburan dan liburan," ujarnya, Minggu (25/9).

Meski buka di masa pandemi, Baloga kata dia menunjukkan bisa tetap survive dan tidak harus langsung tutup. Walaupun secara promosi sempat agak berat terutama ketika masa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) diperketat seperti yang pernah terjadi dahulu di awal masa pandemi.

Saat ini Baloga memanfaatkan luas lahan sekitar 6 hektare tanah. Dan masih ada 1,5 hektare tanah lagi yang akan digarap dengan konsep berbeda nantinya.

"Yang utama bunga memang. Sisanya nanti akan kami tanami buah. Jadi pengunjung bisa langsung memetik buah, makan di lokasi atau meminumnya dalam bentuk jus," ungkap Tossy secara khusus kepada Jatimtimes.

Selain tempat destinasi wisata, Baloga juga memberdayakan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) masyarakat sekitar. Ada 30 stand UMKM tersedia di area luaran Baloga.

Baca Juga : Masih Ada Waktu, Yuk Cek Promo Honda Selama September 2022

Baloga-Batu-Love-Garden-yang-di-dalamnya-memiliki-ratusan-jenis-bunga-lokal-maupun-manca-negara-Cf86db01c4d2f975f.jpg

"Untuk belanja bunga pengunjung tidak harus masuk ke dalam dengan beli tiket. Bisa area stand di luaran. Selain bunga ada yang jual souvenir, makanan dan minuman juga," terangnya.

Tossy optimis Baloga akan terus berkembang dan akan menjadi salah satu tempat favorit di Jatim nanti. Utamanya jika pandemi sudah benar berakhir. "Saat ini jumlah pengunjung tidak menentu memang. Namun sehari bisa ratusan orang," imbuh dia.

Terpisah Akademisi dari Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang, Dias Satria, PhD menilai tepat jika pariwisata bisa menjadi salah satu pemicu bangkitnya ekonomi daerah. Karena di dalamnya saling terkait seperti kebutuhan sektor transportasi, akomodasi, makanan minuman, serta UMKM. 

Di Jatim dia melihat banyak tempat pariwisata baru yang justru tumbuh di masa pandemi. Tidak hanya di Malang saja, beberapa di daerah lain seperti Banyuwangi dan Tulungagung juga. 

"Sekarang apalagi trennya anak muda adalah healing. Healing itu konteksnya ya pariwisata," tegas pria yang juga Ketua Program Studi Ekonomi, Keuangan dan Perbankan Unibraw ini, Senin (26/9).

Dan saat ini market yang tepat kata dia adalah untuk kalangan Millenial. Sebab, kalangan Millenial sangat akrab dengan dunia sosial media dan terbiasa meng-upload aktivitasnya serta untuk memviralkan.

"Karena kekuatan sosial media itu luar biasa, khususnya untuk bisa mencapture destinasi yang menarik. Jadi menurut saya arah ke depan destinasi yang dekat dengan alam itu lah yang akan unggul," tuturnya.

Menurut dia dengan media sosial, promosi akan terbantukan dan pariwisata terdistribusi secara merata. "Mereka akan mencari tempat yang minimal dekat dan selanjutnya searching ke tempat lain," lanjutnya.

Dan perekonomian dari dunia pariwisata ini jelas dia sangat erat juga dengan perekonomian dari sektor UMKM. "Itu namanya Community Bassed  Tourisme. Jadi ini salah satunya membantu proses recovery ekonomi. Karena pariwisata itu tidak hanya destinasinya yang beri keuntungan, tapi multi efek playernya terhadap sektor pendukung  yang kuat," lanjutnya.

UMKM ini imbuh Dias menyediakan makanan  minuman, dan souvenir. "Kebutuhan akan guide, kebutuhan sarana penginapan akan tumbuh seiring dengan adanya pariwisata," imbuhnya.

Dan yang harus dicatat kata Dias wisatawan itu ketika berkunjung tak berbicara harga, tapi lebih melihat pada nilainya. "Kalau kita bicara pariwisata itu tak ada harganya. Dan itu lah keuntungan nilai tambah secara ekonomi," pungkas dia.


JOIN JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel anda.

Penulis

M. Bahrul Marzuki

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Berita Lainnya