Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Rezeki Terasa Seret padahal Gaji Cukup? Ini 5 Kebiasaan yang Menghilangkan Berkah Menurut Islam

Penulis : Mutmainah J - Editor : Yunan Helmy

20 - Feb - 2026, 07:07

Placeholder
Ilustrasi rezeki seret. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Banyak orang merasa penghasilannya cukup, tetapi tetap saja hidup terasa sempit dan penuh kekhawatiran. Dalam ajaran Islam, kondisi ini sering dikaitkan dengan hilangnya barakah atau keberkahan dalam harta. Jadi, persoalannya bukan semata soal besar kecilnya nominal, melainkan bagaimana rezeki itu diperoleh dan digunakan.

Melansir Islamic Finance Guru (IFG), ada beberapa kebiasaan yang diyakini bisa mengurangi keberkahan rezeki. Ketika barakah hilang, harta memang tidak selalu berkurang secara nominal, tetapi terasa sempit dan kurang membawa kebaikan. Berikut penjelasan lengkapnya.

Baca Juga : Ramalan Zodiak 20 Februari 2026: Rezeki Datang Bertubi-tubi, Karier Melonjak, tapi Jangan Abaikan Alarm Tubuh

1. Mengonsumsi Harta Haram atau Syubhat

Dalam Islam, cara mendapatkan uang sama pentingnya dengan jumlah yang diperoleh. Penghasilan yang berasal dari praktik haram seperti penipuan, suap, manipulasi, atau transaksi terlarang jelas menghilangkan keberkahan. Bahkan harta yang statusnya masih meragukan (syubhat) pun sebaiknya dihindari.

Rasulullah Muhammad SAW pernah menyampaikan tentang seseorang yang berdoa dengan sungguh-sungguh, tetapi makanan, minuman, dan pakaiannya berasal dari yang haram. Dalam keadaan seperti itu, doanya sulit dikabulkan. Artinya, kebersihan sumber rezeki sangat berpengaruh terhadap keberkahan hidup.

Karena itu, penting untuk mengevaluasi kembali sumber penghasilan. Apakah sudah sesuai prinsip halal? Apakah ada unsur merugikan orang lain? Langkah kecil memperbaiki niat dan praktik keuangan bisa berdampak besar pada ketenangan hidup.

2. Mengabaikan Kewajiban Zakat

Zakat bukan sekadar kewajiban tahunan, tetapi bentuk penyucian harta. Secara bahasa, zakat berarti “membersihkan” dan “menumbuhkan”. Filosofinya jelas: harta yang dikeluarkan sebagian untuk yang berhak justru akan berkembang dan membawa keberkahan.

Mengabaikan zakat bukan hanya berdampak sosial, tetapi juga spiritual. Dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa harta yang tidak dizakati dapat menjadi sebab datangnya azab di akhirat. Selain itu, menahan zakat juga diyakini bisa menghambat keberkahan di dunia.

Bagi Muslim yang telah memenuhi syarat nisab dan haul, menghitung serta menunaikan zakat secara disiplin adalah langkah penting menjaga rezeki tetap bersih dan membawa manfaat.

3. Terlibat dalam Praktik Riba

Riba atau bunga dalam transaksi pinjam-meminjam diharamkan secara tegas dalam Islam. Larangan ini disebutkan dengan ancaman keras dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam QS Al-Baqarah ayat 275, yang menjelaskan bahwa orang yang kembali mengambil riba termasuk golongan penghuni neraka.

Riba tidak hanya dipandang sebagai pelanggaran hukum agama, tetapi juga dianggap merusak keadilan ekonomi. Keuntungan yang diperoleh tanpa risiko atau usaha yang seimbang dinilai tidak membawa keberkahan.

Karena itu, umat Islam dianjurkan meninjau ulang transaksi keuangan, termasuk sistem pinjaman atau produk yang mengandung bunga. Jika terlanjur menerima bunga, sebagian ulama menyarankan untuk menyalurkannya ke kegiatan sosial tanpa niat sedekah sebagai bentuk pembersihan harta.

4. Boros dan Gaya Hidup Berlebihan

Hidup konsumtif sering kali menjadi penyebab rezeki terasa cepat habis. Islam mengajarkan keseimbangan: tidak pelit, tetapi juga tidak berlebihan. Dalam QS Al-A’raf ayat 31 ditegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Gaya hidup yang terlalu mengikuti tren, membeli barang demi gengsi, atau sering berbelanja tanpa perencanaan bisa mengikis keberkahan. Bukan karena uangnya kurang, tetapi karena tidak dikelola dengan bijak.

Membuat anggaran, menabung secara rutin, dan memprioritaskan kebutuhan adalah langkah sederhana agar harta lebih terkontrol dan membawa rasa cukup.

5. Tidak Menunaikan Amanah Keuangan

Utang yang sengaja ditunda pembayarannya, janji finansial yang diingkari, atau transaksi yang tidak transparan juga bisa menghilangkan keberkahan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Muhammad SAW menjelaskan bahwa dua pihak yang bertransaksi akan diberkahi jika jujur dan terbuka. Namun jika berbohong atau menyembunyikan cacat barang, keberkahannya akan dihapus.

Baca Juga : Sambut Ramadan 1447 H, PLN UP3 Malang Bagikan Sembako untuk Warga

Kejujuran dan integritas menjadi fondasi penting dalam urusan ekonomi. Rezeki yang diperoleh dengan cara bersih dan amanah lebih membawa ketenangan dibanding keuntungan besar yang penuh kecurangan.

Tips agar Rezeki Lebih Berkah dan Terhindar dari Kebiasaan yang Menghambat

Setelah mengetahui lima kebiasaan yang bisa mengurangi keberkahan harta, penting juga memahami langkah konkret untuk menghindarinya. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:

1. Evaluasi Sumber Penghasilan secara Berkala

Luangkan waktu untuk meninjau kembali pekerjaan, bisnis, atau investasi yang dijalankan. Pastikan tidak ada unsur penipuan, manipulasi, atau praktik yang merugikan pihak lain. Jika masih ragu (syubhat), carilah pendapat ahli atau ulama agar hati lebih tenang.

2. Disiplin Menunaikan Zakat dan Perbanyak Sedekah

Buat pengingat tahunan untuk menghitung zakat. Selain zakat wajib, biasakan juga bersedekah secara rutin meski nominalnya kecil. Sedekah tidak membuat miskin, justru membuka pintu keberkahan.

3. Hindari dan Kurangi Transaksi Berunsur Riba

Pelajari kembali sistem keuangan yang digunakan. Jika memiliki pinjaman berbunga, susun rencana pelunasan bertahap. Mulailah beralih ke sistem keuangan syariah yang lebih sesuai dengan prinsip Islam.

4. Terapkan Pola Hidup Sederhana

Buat anggaran bulanan dan pisahkan antara kebutuhan dan keinginan. Hindari belanja impulsif. Prinsip sederhana bukan berarti kekurangan, tetapi tahu batas dan merasa cukup.

5. Jaga Amanah dan Integritas

Biasakan membayar utang tepat waktu, menepati janji, serta jujur dalam setiap transaksi. Kepercayaan adalah aset besar dalam kehidupan dan bisnis.

6. Perbanyak Istigfar dan Doa

Dalam Islam, istigfar diyakini menjadi salah satu pembuka pintu rezeki. Memohon ampun atas kesalahan masa lalu dan memperbaiki diri adalah langkah penting mengembalikan barakah.

Dalam perspektif Islam, rezeki tidak selalu berbentuk materi. Kesehatan, keluarga yang harmonis, anak yang saleh, waktu luang, dan hati yang tenang juga termasuk rezeki. Karena itu, ukuran keberhasilan finansial tidak hanya dilihat dari angka di rekening, tetapi dari manfaat dan ketenangan yang dirasakan.

Jika merasa rezeki terasa “mampet”, Islam mengajarkan untuk introspeksi dan memperbaiki diri. Pintu taubat selalu terbuka. Memohon ampun, memperbaiki praktik keuangan, menunaikan kewajiban, dan memperbanyak sedekah bisa menjadi jalan untuk mengembalikan keberkahan.

Pada akhirnya, rezeki yang berkah adalah rezeki yang cukup, menenangkan, dan membawa kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain.


Topik

Agama Rezeki keberkahan rezeki rezeki terasa kurang kajian Islam



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bangkalan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy