Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Dari Palapa ke Kalimat Syahadat: Ketika Wali Songo Mengislamkan Jiwa Majapahit

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : A Yahya

20 - Feb - 2026, 12:50

Placeholder
Lahirnya Kesultanan Demak pada awal abad ke 16. Raden Patah berdiri bersama para wali dan bangsawan di pelataran Masjid Agung Demak menjadi simbol tegaknya kekuasaan Islam pertama di tanah Jawa serta awal babak baru sejarah Nusantara.(Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pada penghujung abad ke-15, Jawa bukan lagi tanah yang tenang. Bayang-bayang kemegahan Majapahit masih membekas di reruntuhan puri dan prasasti batu, tetapi jantung kerajaannya telah berhenti berdetak. Dari Trowulan hingga Kedaton Bhayangkara, yang tersisa hanya gema dari masa silam, masa ketika seorang patih bernama Gajah Mada bersumpah tidak akan menyentuh buah palapahttps://jatimtimes.com/tag/palapa sebelum seluruh Nusantara tunduk di bawah kaki Majapahit.

Namun sumpah penaklukan itu, yang dahulu menjadi energi pemersatu, pada akhirnya menjelma menjadi kutukan. Setelah wafatnya Prabu Kertawijaya, para pewaris tahta saling menuding dan menumpahkan darah. Para bangsawan merasa lebih unggul satu sama lain, adhiguna, adhigung, adhigana; nilai-nilai keunggulan dan superioritas yang dulu menjadi kebanggaan Majapahit kini berubah menjadi bara api yang melalap dirinya sendiri.

Baca Juga : Fakta Gajah Mada Lahir di Gunung Ratu Ngimbang Lamongan Jawa Timur

Dari reruntuhan istana yang terbakar, lahir ratusan kadipaten baru: Terung, Sengguruh, Wirasabha, Japan, Panaraga, Wengker, Lasem, hingga Blambangan. Para adipati, sebagian masih berdarah Majapahit dan sebagian lainnya bangsawan lokal yang berambisi, menegakkan kekuasaan sendiri dan saling menyerang dalam perang yang berkepanjangan. Penulis menyebut masa ini sebagai “zaman chaos”, ketika nilai-nilai rajas atau nafsu yang membara menguasai kehidupan politik Jawa.

Dalam suasana inilah, perlahan namun pasti, muncul sebuah kekuatan baru dari arah pesisir, bukan dengan pedang melainkan dengan kalimat. Sebuah kalimat yang mengubah orientasi kekuasaan dari penaklukan dunia menuju penaklukan diri.

Gajah mada

Krisis Nilai dan Bayang-Bayang Keruntuhan

Majapahit hidup dalam etos kebesaran. Gelar “Rajasa”, yang diwarisi dari Ken Arok, mengandung arti rajas, yakni energi kosmik yang membara, ambisi tanpa batas, dan keberanian menantang takdir. Nilai-nilai ini menjadi fondasi ideologi Majapahit: tan halah (tak terkalahkan), niratisaya (tiada tanding), kowasa (berkuasa), dan nirbhaya (tak kenal takut).

Ketika nilai itu berada di tangan raja besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Jawa bersatu. Tetapi ketika berada di tangan penerus yang lemah, nilai yang sama menjerumuskan mereka dalam perang saudara.

Diogo do Couto, pelancong Portugis yang datang ke Jawa pada tahun 1526, setahun sebelum Majapahit benar-benar tumbang, menulis kesannya yang getir:

“Orang Jawa begitu sombongnya, menganggap semua manusia lain lebih rendah dari mereka. Jika seorang Jawa berjalan dan melihat orang lain berdiri di tempat yang lebih tinggi, orang itu harus turun, atau ia akan dibunuh.”

Kesombongan struktural itu menjelma dalam bentuk perang antarkadipaten. Setiap adipati merasa dirinya pewaris sah kebesaran Majapahit. Tidak ada pusat, tidak ada otoritas moral yang disegani.

Perang saudara yang meluas membuat jumlah penduduk Jawa merosot drastis. Dalam sumber lokal seperti Babad Wilis dan Babad Tawang Alun digambarkan bahwa wilayah Blambangan, yang masih memegang nilai-nilai kebesaran Majapahit, terus dilanda perang keluarga hingga abad ke-18. Kekacauan sosial ini membuat tanah Jawa memerlukan sesuatu yang baru, nilai yang mampu menenangkan api lama.

Dan di saat itulah, nama-nama para wali mulai bergema di pesisir utara: Ampel, Bonang, Drajat, Kudus, Muria, Giri, Kalijaga, Gresik, dan Gunung Jati. Mereka bukan penakluk, melainkan penyembuh.

Majapahit

Gerakan Wali Songo: Revolusi Nilai dari Pesisir

Para Wali Songo datang bukan membawa pedang, melainkan membawa huruf, nada, dan makna. Mereka menyebarkan Islam dengan pendekatan yang tidak konfrontatif, tetapi transvaluatif, yakni mengubah nilai lama tanpa memusnahkannya.

Sunan Ampel, yang dianggap sesepuh para wali, mendirikan pusat pendidikan di Ampeldenta (Surabaya). Dari sinilah ajaran moral Islam mulai disebarkan ke berbagai penjuru Jawa. Ampel menekankan etika sosial Islam: ikhlas, sabar, dan tawadhu. Bagi masyarakat Jawa yang terbiasa dengan hierarki keras, ajaran kesetaraan di hadapan Allah adalah sesuatu yang revolusioner.

Putra dan murid Sunan Ampel, seperti Sunan Bonang dan Sunan Drajat, bersama Sunan Kalijaga yang merupakan murid Sunan Bonang, menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam bahasa budaya lokal. Mereka tidak memaksakan perubahan, melainkan mengislamkan tradisi.

Sunan Bonang misalnya, mengajarkan tasawuf lewat tembang-tembang Jawa. Tombo Ati bukan sekadar nasihat moral, melainkan jembatan yang menghubungkan rasa Jawa dengan makna Islam. Sementara Sunan Drajat mengembangkan ajaran sosial yang berpijak pada empati dan solidaritas: menehono teken marang wong kang wuto (berikan tongkat pada yang buta), menehono mangan marang wong kang luwe (beri makan pada yang lapar).

Di tangan Wali Songo, Islam tidak tampil sebagai agama kekuasaan, tetapi agama kemanusiaan.

Sunan Ampel

Sunan Kalijaga: Estetika Islam dan Jiwa Majapahit

Sunan Kalijaga mungkin merupakan simbol paling nyata dari proses transvaluasi nilai Majapahit menjadi Islam. Lahir dari keluarga bangsawan Tuban yang masih memiliki darah Majapahit, ia tumbuh dalam lingkungan yang memahami betul kebesaran masa lalu. Namun setelah bertemu Sunan Bonang, ia mengalami transformasi batin, dari rajas menuju sattva, dari ambisi dunia menuju ketenangan jiwa.

Kalijaga memilih jalan dakwah yang halus, menggunakan seni, simbol, dan ritual. Ia memahami bahwa bagi orang Jawa, keindahan dan rasa adalah jalan menuju makna. Wayang, gamelan, dan tembang ia jadikan medium untuk menanamkan ajaran tauhid. Dalam lakon wayang, dewa-dewa tidak dihapus, melainkan dimaknai ulang sebagai lambang sifat-sifat Tuhan.

Di tangan Kalijaga, nilai-nilai adhiguna, adhigung, adhigana diterjemahkan menjadi spiritualitas baru: eling lan waspada, andap asor, dan ngalah luwih mulya. Ia mengubah nilai keunggulan menjadi kerendahan hati, dan nilai kemenangan menjadi kesadaran diri.

Kalijaga paham bahwa untuk mengislamkan Majapahit, ia tidak boleh menghancurkan jiwanya. Ia harus menyembuhkannya.

Sunan Kalijaga

Sunan Giri: Dari Kekuasaan ke Keadilan

Sunan Giri (Raden Paku), putra Maulana Ishaq dan cucu angkat dari garis bangsawan Blambangan keturunan Arya Wiraraja, memainkan peran penting dalam membentuk struktur politik Islam di Jawa. Ia mendirikan Giri Kedaton, pusat dakwah sekaligus lembaga pendidikan yang menjadi semacam “Vatican Islam Jawa”.

Berbeda dengan Kalijaga yang memilih pendekatan budaya, Giri menata sistem sosial dan pemerintahan. Ia membangun jaringan ulama dan pemimpin daerah yang kelak menjadi fondasi bagi kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Pajang, dan Mataram.

Baca Juga : Sambut Ramadan 1447 H, PLN UP3 Malang Bagikan Sembako untuk Warga

Giri memformulasikan etika kekuasaan Islam yang kontras dengan warisan Majapahit. Jika dulu kekuasaan berarti kowasa (berkuasa tanpa batas), maka dalam ajaran Giri, kekuasaan adalah amanah yang harus dijalankan dengan adil dan ikhlas.

Dari pesantren Giri, lahir generasi baru bangsawan muslim yang memandang kekuasaan bukan sebagai sarana menundukkan, tetapi mengayomi.

Sunan Giri

Sunan Kudus: Penakluk Tanpa Darah

Sunan Kudus, atau Ja’far Shadiq, dikenal sebagai wali yang paling keras dalam prinsip tetapi lembut dalam tindakan. Ia mewarisi semangat Gajah Mada dalam hal strategi, namun mengisinya dengan ruh Islam.

Sunan Kudus memahami bahwa masyarakat Jawa tidak bisa ditundukkan oleh kekerasan. Ia menggunakan simbol-simbol toleransi untuk menumbuhkan rasa percaya. Dalam masjidnya di Kudus, menara berbentuk candi Majapahit dipertahankan. Daging sapi, yang suci bagi umat Hindu, dihindari sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya lokal.

Bagi Sunan Kudus, dakwah bukan soal mengganti melainkan menyucikan. Ia mengubah nilai tan halah atau tak terkalahkan menjadi la ghaliba illa Allah, tiada kemenangan selain milik Tuhan.

Masjid Menara kudus

Sunan Gunung Jati: Menyatukan Laut dan Darat

Sementara di barat Jawa, Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) membangun Cirebon sebagai pusat penyebaran Islam yang strategis. Ia adalah jembatan antara dunia Arab, Melayu, dan Jawa.Sunan Gunung Jati membawa ajaran universal Islam ke dalam konteks lokal, mempertemukan pedagang, ulama, dan bangsawan dalam visi moral yang sama.

Sunan Gunung Jati memahami pentingnya diplomasi dan aliansi perkawinan. Melalui jaringan keluarga, ia menjalin hubungan dengan Demak, Banten, dan bahkan Kesultanan Malaka. Ia menjadikan Islam sebagai ideologi penyatuan politik baru, bukan melalui perang, tetapi melalui jaringan kesetiaan dan nilai.

Sunan Gunung Jati

Demak: Menyatukan Warisan Lama dan Ruh Baru

Ketika Majapahit runtuh dan kekuasaan berpindah ke Demak Bintara, para Wali Songo berada di balik layar politik itu. Raden Patah, pendiri Demak, adalah murid sekaligus menantu Sunan Ampel. Di tangannya, nilai-nilai lama Majapahit disucikan oleh ruh Islam.

Demak bukan sekadar kerajaan baru; ia adalah laboratorium transvaluasi nilai.Nilai adhiguna diterjemahkan menjadi keunggulan moral, adhigung menjadi kemuliaan akhlak, dan tan halah menjadi keteguhan iman.

Melalui Demak, Islam tidak hanya menyebar di wilayah pesisir tetapi juga menembus pedalaman. Dari sinilah lahir Pajang, Mataram, dan kemudian Kasunanan Surakarta serta Kesultanan Yogyakarta, yang semuanya mengusung perpaduan antara Islam dan Jawa, antara syariat dan budaya.

Raden Patah

Transvaluasi Nilai: Dari Penaklukan ke Penyerahan

Proses Islamisasi Jawa bukanlah pemutusan sejarah, melainkan kesinambungan. Para wali memahami bahwa kebesaran Majapahit tidak dapat dihapus, melainkan harus ditafsir ulang. Nilai-nilai lama diubah melalui jalan transvaluasi, yakni adhiguna dimaknai sebagai akhlaqul karimah atau keunggulan moral, adhigung menjadi izzah atau kemuliaan karena iman, tan halah berubah menjadi tawakkal atau keteguhan karena berserah diri kepada Allah, kowasa ditafsir sebagai qana’ah atau penguasaan diri, dan nirbhaya diwujudkan dalam sikap sabar serta syukur. Dalam istilah penulis, inilah “Islamisasi jiwa Majapahit,” suatu proses perubahan batiniah yang perlahan membentuk kepribadian Jawa Islam: halus, rukun, eling, dan sabar.

Wali Songo mengubah arah pandangan masyarakat Jawa dari dunia luar (imperium) menuju dunia dalam (jiwa). Jika Majapahit berpusat pada penaklukan, Islam berpusat pada penyerahan.

Sunan muria

Refleksi: Warisan Wali dan Jiwa Jawa

Dua abad setelah Majapahit jatuh, nilai-nilai baru itu telah tertanam kuat. Junghuhn, ilmuwan Belanda abad ke-19, bahkan menulis kekagumannya terhadap moral masyarakat Jawa:

“Nilai-nilai luhur Jawa lebih tinggi dari agama bangsa kulit putih.”

Kalimat itu bukan sekadar pujian kosong, melainkan penanda keberhasilan Wali Songo dalam membentuk peradaban baru, yaitu Islam Nusantara, yang tidak menghapus masa lalu tetapi menafsirkannya kembali.

Dari Palapa ke Syahadat, dari sumpah penaklukan ke sumpah penyerahan, dari Gajah Mada ke Sunan Kalijaga, perjalanan ini bukan sekadar sejarah agama, melainkan sejarah transformasi manusia.

Majapahit menaklukkan dunia dengan pedang, sedangkan Wali Songo menaklukkan hati dengan cinta. Majapahit mempersatukan Nusantara melalui kekuasaan, sementara Wali Songo mempersatukannya dengan nilai. Di sanalah, di antara reruntuhan candi dan menara masjid, kita menemukan jati diri bangsa ini, sebuah bangsa yang dibangun bukan semata oleh kekuatan, tetapi oleh kebijaksanaan untuk berubah.


Topik

Peristiwa Jawa Majapahit sumpah Palapa



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bangkalan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

A Yahya