Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Layang-Layang di Tengah Gempuran Gawai, Komunitas Malang Raya Berusaha Jaga Tradisi Tetap Terbang

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Yunan Helmy

09 - Aug - 2026, 17:51

Placeholder
Sebanyak 64 tim dari sekitar 20 komunitas layang-layang se-Malang Raya berkumpul dalam Malang Solidarity Sky Fest (MSSF) 2026 di Lapangan Layang-Layang Gadang 12B, Kecamatan Sukun, Kota Malang (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Layang-layang mungkin tidak lagi menjadi pemandangan yang mudah ditemui di ruang-ruang bermain anak perkotaan. Permainan yang dahulu lekat dengan tanah lapang, sawah, kampung, dan musim kemarau itu kini semakin jarang terlihat, terutama di tengah perubahan pola bermain anak yang banyak bergeser ke layar gawai.

Namun, tradisi tersebut belum benar-benar hilang. Di Malang Raya, sejumlah komunitas masih mempertahankan layang-layang sebagai bagian dari aktivitas masyarakat. Bahkan, permainan tradisional itu berkembang menjadi sebuah komunitas dengan agenda kompetisi hingga lintas daerah.

1

Sebanyak 64 tim dari sekitar 20 komunitas layang-layang se-Malang Raya berkumpul dalam Malang Solidarity Sky Fest (MSSF) 2026 di Lapangan Layang-Layang Gadang 12B, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Sabtu-Minggu (8-9/8/2026).

Baca Juga : 20 Prompt AI Gambar HUT ke-81 RI untuk 17 Agustus 2026, Menarik dan Mudah Dicoba

Peserta datang dari berbagai wilayah, mulai Gondanglegi, Singosari, Kota Malang hingga Kota Batu. Mereka tidak hanya memainkan layang-layang untuk mengisi waktu luang, tetapi juga menekuni teknik, membangun komunitas, dan mengikuti kompetisi.

Ketua Perkumpulan Pelayang Seluruh Indonesia (Pelangi)  Kota Malang, Mohammad Saiful Hamzah, melihat keberadaan puluhan komunitas tersebut sebagai tanda bahwa permainan layang-layang masih mempunyai ruang di tengah perubahan zaman. "Ada 64 tim. Sekitar 20 komunitas. Se-Malang Raya. Ada Gondanglegi, Singosari, Malang, Batu," kata Saiful.

Menurut dia, layang-layang telah berkembang di Malang Raya selama puluhan tahun. Dari permainan yang awalnya dilakukan secara sederhana, aktivitas tersebut kemudian melahirkan komunitas-komunitas yang secara rutin berkumpul dan mengikuti berbagai perlombaan.

Persoalannya, keberlangsungan tradisi tersebut tidak hanya bergantung pada keberadaan para pelayang saat ini. Regenerasi menjadi tantangan tersendiri karena generasi anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang semakin dekat dengan teknologi digital.

Layar ponsel, permainan digital, dan media sosial telah mengubah cara anak menghabiskan waktu luang. Permainan yang membutuhkan ruang terbuka dan interaksi langsung seperti layang-layang harus bersaing dengan berbagai hiburan yang dapat diakses hanya melalui perangkat di tangan.

2

Karena itu, komunitas pelayang mulai melihat anak-anak dan generasi muda sebagai titik penting keberlanjutan tradisi tersebut.

Saiful mengatakan, pengalaman mengikuti kategori anak dalam sejumlah perlombaan menunjukkan bahwa minat terhadap layang-layang sebenarnya belum hilang. Ketika diberikan ruang dan kesempatan, anak-anak masih antusias memainkan permainan tersebut.

Ia mencontohkan lomba kategori usia di bawah 12 tahun yang pernah digelar di Sawojajar dan diikuti hampir 100 anak. Respons tersebut bahkan membuat sejumlah orang tua kembali menanyakan agenda perlombaan khusus anak.

"U-12, anak SD-SD itu diikuti hampir 100 anak. Ramai dan senang. Ini positif, daripada anak-anak terus bermain HP atau melakukan hal-hal yang kurang baik. Biar main layangan," ujarnya.

Bagi komunitas, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata-mata hilangnya minat anak terhadap permainan tradisional. Persoalannya adalah semakin sedikit ruang yang mempertemukan anak dengan permainan tersebut.

Layang-layang membutuhkan lapangan, lingkungan sosial, pendampingan, sekaligus orang-orang yang memahami cara memainkannya. Tanpa ekosistem tersebut, permainan tradisional berisiko hanya menjadi bagian dari ingatan generasi yang lebih tua.

"Harapan kami, layangan di Malang Raya ini bisa lestari. Soalnya ini sudah budaya. Sayang kalau sampai hilang, karena di sini banyak pelayang," kata Saiful.

Eksistensi komunitas pelayang Malang Raya juga tidak berhenti pada lingkup lokal. Sejumlah pelayang dari wilayah tersebut rutin mengikuti kompetisi di luar daerah, termasuk Jakarta dan Bandung. Beberapa di antaranya bahkan berhasil meraih prestasi.

Aktivitas itu menunjukkan bahwa layang-layang tidak sepenuhnya identik dengan permainan masa lalu. Di tangan komunitas, permainan tersebut telah berkembang menjadi aktivitas yang mempunyai unsur keterampilan, kompetisi, kreativitas, dan jejaring sosial.

3

Namun, keberlanjutan komunitas tetap membutuhkan dukungan yang lebih luas. Saiful berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap komunitas pelayang, terutama untuk membuka ruang bermain dan kompetisi yang dapat memperkenalkan layang-layang kepada generasi muda.

Baca Juga : Musim Kemarau Bikin Kekeringan? Ini Cara Mengatasinya Menurut Islam

Keterlibatan keluarga juga dinilai penting. Orang tua menjadi pihak yang dapat mengenalkan kembali permainan tersebut kepada anak sekaligus mendampingi mereka ketika beraktivitas di luar rumah.

"Ajakan kami ya untuk melestarikan layang-layang ini. Ada kategori anak-anak supaya orang tua bisa mendukung," katanya.

Di sisi lain, MSSF 2026 memperlihatkan bahwa layang-layang memiliki potensi untuk berkembang melampaui fungsi permainan tradisional. Festival tersebut turut menghadirkan bazar UMKM, pameran layangan hias, eksebisi bermain layang-layang, lomba video konten dan berbagai aktivitas lainnya.

Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin menilai ruang-ruang kreativitas berbasis komunitas seperti itu dapat menjadi bagian dari pengembangan potensi Kota Malang.

"Bagian dari Malang Solidarity Sky Fest ini menunjang program kami, Dasa Bakti kami, Malang Tahes dan Kreativitas. Tidak hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana kita menjaga semua kreativitas yang muncul dan berkembang di Kota Malang," ujar Ali saat penutupan MSSF 2026, Minggu (9/8/2026).

Menurut Ali, pengembangan kegiatan semacam itu juga dapat bersinggungan dengan sektor ekonomi kreatif. Keberadaan UMKM yang terlibat dalam festival, menurutnya, dapat diperbesar seiring meningkatnya skala kegiatan.

"Kita bangga dan bahagia, karena ini bisa meningkatkan daya jual Kota Malang. UMKM yang ada dalam acara juga bisa diperbesar, bisa diperbanyak lagi. Generasi muda juga bisa kita tumbuhkembangkan," katanya.

Ketua Pelaksana MSSF 2026 Deny Rahmawan mengatakan, pertemuan komunitas menjadi salah satu bagian penting dari festival tersebut. Kompetisi tidak hanya ditempatkan sebagai perebutan kemenangan, tetapi juga sebagai ruang untuk mempertemukan pelayang dari berbagai daerah sekaligus mengenalkan aktivitas tersebut kepada generasi berikutnya.

"Agenda ini selain menjadi pembibitan dan ajang kompetisi, juga menjadi kesempatan silaturahmi," kata Deny.

MSSF 2026 yang digelar dalam rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI itu mengusung tema "Bersatu di Langit, Melayangkan Kreativitas".

Bagi komunitas pelayang, persoalan terbesar bukan sekadar bagaimana membuat layang-layang kembali memenuhi langit. Tantangannya adalah memastikan permainan tersebut masih memiliki tempat dalam kehidupan generasi yang tumbuh di tengah perubahan teknologi.


Topik

Peristiwa Layang-layang festival layang-layang Malang Solidarity Sky Fest



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bangkalan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Yunan Helmy

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa