Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Bukan Sekadar Olah Limbah, KKN Unikama Uji Peluang Pupuk dan Pakan Jadi Produk Ekonomi Desa

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana

19 - Aug - 2026, 17:46

Placeholder
Program KKN Unikama di Desa Gunungronggo, Kabupaten Malang (ist)

JATIMTIMES - Program KKN mahasiswa Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) di Desa Gunungronggo, Kabupaten Malang tidak berhenti pada persoalan bagaimana mengolah limbah menjadi pupuk atau pakan ternak. Tantangan yang lebih besar justru muncul setelah program pengabdian selesai: apakah inovasi tersebut benar-benar bisa diteruskan masyarakat dan berkembang menjadi produk bernilai ekonomi.

Persoalan keberlanjutan itu menjadi salah satu perhatian dalam Monitoring dan Evaluasi (Monev) KKN Unikama. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Unikama, Lina Kartikaningrum, S.AB., M.AB., menegaskan bahwa program mahasiswa sejak awal harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, terutama karena sebagian besar warga Gunungronggo menggantungkan aktivitas ekonominya pada sektor pertanian dan peternakan.

Baca Juga : Cegah Jalan Lingkungan Jadi Lahan Parkir, RW 1 Pucang Sewu Surabaya Terapkan Denda Rp500 Ribu

Menurut Lina, pemanfaatan limbah organik diarahkan agar tidak sekadar menjadi kegiatan pelatihan. Produk yang dihasilkan diharapkan mempunyai manfaat langsung, dapat diproduksi dengan biaya terjangkau, serta memungkinkan untuk dikembangkan setelah mahasiswa menyelesaikan masa KKN.

1

"Program kerja mahasiswa dirancang secara terukur berbasis kebutuhan masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Tujuannya memastikan limbah organik dapat diolah secara murah, ekonomis, dan berkelanjutan," ujar Lina.

Salah satu yang dikembangkan adalah Pupuk Organik Cair (POC) dari sampah organik rumah tangga dan sisa pertanian. Produk tersebut diarahkan untuk digunakan kelompok tani, termasuk Tani Maju 1, 2 dan 3, untuk kebutuhan pembibitan, tanaman hortikultura hingga tanaman buah.

Namun, mahasiswa tidak berhenti pada tahap penggunaan. Produk tersebut mulai diarahkan menuju komersialisasi dengan menyiapkan merek dagang dan rencana pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Upaya serupa dilakukan melalui pemanfaatan cangkang telur. Bahan yang selama ini menjadi limbah tersebut diolah menjadi tepung kaya kalsium. Bagi petani, tepung cangkang telur dapat digunakan sebagai campuran penyubur tanah dengan EM4 dan molase. Sementara bagi peternak, bahan tersebut dapat menjadi tambahan kalsium dalam campuran pakan, seperti katul atau polar.

2

Di sektor peternakan, mahasiswa juga memperkenalkan pakan fermentasi berbahan sisa makanan dan dedak. Ada pula pembuatan silase dari daun kering melalui proses fermentasi menggunakan kantong plastik.

Inovasi tersebut menyasar persoalan yang lebih dekat dengan keseharian peternak, yakni kebutuhan memperoleh pakan dengan biaya lebih rendah dan masa simpan yang lebih panjang.

Lina mengatakan, proses pengembangan produk tetap membutuhkan penyesuaian dengan kondisi masyarakat. Karena aktivitas warga cukup padat pada siang hari, pelatihan dan sosialisasi dilakukan pada malam hari. Penyusunan formula juga dilakukan setelah mahasiswa berkonsultasi dengan tokoh masyarakat dan pihak yang memahami praktik pertanian lokal.

"Mahasiswa harus melihat kebutuhan masyarakat secara langsung. Karena itu, inovasi yang dibuat tidak boleh hanya bagus secara konsep, tetapi harus bisa diterapkan oleh warga," tegasnya.

Persoalan berikutnya adalah standar produksi. Dalam evaluasi, tim Monev memberikan catatan agar petunjuk teknis tidak dibuat terlalu umum. Takaran molase atau tetes tebu, kapasitas wadah, komposisi bahan dan lama fermentasi harus dicantumkan secara terukur.

Baca Juga : Pembunuhan Mahasiswa Malang Dipicu Api Cemburu karena Pacar Digoda

Catatan itu penting karena proses fermentasi membutuhkan waktu sekitar dua minggu, sedangkan masa KKN mahasiswa tinggal menyisakan waktu yang relatif terbatas. Sampel produk dan formula utama karena itu diserahkan kepada masyarakat agar prosesnya tetap dapat dilanjutkan ketika mahasiswa sudah kembali ke kampus.

Lebih lanjut Lina menjelaskan, keberlanjutan tersebut menjadi bagian penting dari ukuran keberhasilan KKN. Program tidak seharusnya berhenti ketika mahasiswa meninggalkan desa.

"Keberhasilan utama dari program kerja KKN maupun kepakaran akademisi saat ini diukur dari seberapa besar dampak langsung serta keterpakaiannya oleh masyarakat," katanya.

Ia juga menilai aspek legalitas dan branding menjadi bagian yang tidak kalah penting. Produk yang hanya digunakan di lingkungan internal desa akan memiliki ruang pengembangan yang terbatas. Karena itu, pendaftaran HKI dan pemberian merek dipandang sebagai langkah untuk membuka kemungkinan produk dipasarkan lebih luas.

"Pendaftaran HKI dan pemberian merek atau branding sangat krusial agar produk ini tidak hanya dipakai secara internal, tetapi juga bisa dipasarkan ke luar desa untuk mendongkrak perekonomian lokal," ujar Lina.

Selain inovasi agribisnis, mahasiswa KKN Unikama juga memberikan edukasi mengenai bahaya narkoba kepada masyarakat, khususnya pemuda. Materi diarahkan pada kewaspadaan terhadap penyalahgunaan zat berbahaya yang dapat disamarkan melalui produk tertentu, termasuk narkotika yang disisipkan dalam cairan rokok elektrik atau liquid vape.

Menjelang berakhirnya masa KKN, Lina juga mendorong mahasiswa menyelesaikan sejumlah pekerjaan yang masih tersisa. Penyusunan laporan akhir, pembagian penanggung jawab atau PIC, penggunaan platform kolaboratif seperti Google Drive hingga penulisan artikel ilmiah dan populer menjadi bagian yang harus dituntaskan.

Mahasiswa juga didorong menggali potensi sosial dan budaya Desa Gunungronggo sebagai bahan publikasi, sehingga pengalaman KKN tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga pengetahuan mengenai potensi desa.


Topik

Pendidikan unikama kkn unikama kampus unikama



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bangkalan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Dede Nana

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan