Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Unisma Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Perkuat Ambisi Jadi Kampus Berkelas Dunia

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana

10 - May - 2026, 12:59

Placeholder
Rektor Unisma, Prof Junaidi Mistar PhD, mengukuhkan 3 guru besar baru Unisma yang semakin memperkuat sumberdaya manusia unggul di Unisma untuk menjadikan kampus itu sebagai kampus unggul bereputasi dunia (ist)

JATIMTIMES - Universitas Islam Malang (Unisma) kembali memperkuat kapasitas akademiknya dengan mengukuhkan tiga guru besar baru dari bidang pertanian dan kesehatan. Pengukuhan tersebut menjadi bagian dari langkah kampus dalam mempercepat transformasi menuju perguruan tinggi berkelas dunia melalui penguatan riset, publikasi internasional, hingga ekspansi kerja sama global.

Tiga profesor yang resmi dikukuhkan yakni Prof. Dr. Ir. Hj. Istirochah Pujiwati, M.P., Prof. Dr. apt. Yudi Purnomo, M.Kes., serta Prof. Dr. Dwi Susilowati, S.P., M.P. Dua di antaranya berasal dari Fakultas Pertanian, yakni Prof. Istirochah Pujiwati yang memiliki kepakaran di bidang fisiologi tumbuhan, khususnya tanaman kedelai, serta Prof. Dwi Susilowati yang fokus pada pengembangan masyarakat agribisnis. Sementara dari Fakultas Kedokteran, Prof. Yudi Purnomo memperkuat bidang Farmasi dengan kepakaran biomedis farmasi.

1

Rektor Unisma, Prof. Junaidi Mistar, Ph.D., mengatakan pengukuhan tiga guru besar tersebut semakin memperkuat kualitas sumber daya akademik kampus. Menurutnya, ketiga profesor itu merupakan guru besar ke-25, 26, dan 27 yang lahir dari internal Unisma.

Baca Juga : Drawing Piala Asia 2027: Indonesia Masuk Grup Berat, Lawan Jepang hingga Qatar

“Ketiga guru besar ini adalah guru besar yang lahir dari rahim Unisma sendiri. Mereka meniti karier akademik sejak awal di Unisma. Dulu banyak guru besar di perguruan tinggi swasta berasal dari dosen negeri yang pensiun, tetapi sekarang Unisma mampu melahirkan guru besar sendiri,” ujar Prof. Junaidi Mistar, Ph.D.

2

Ia menjelaskan, Prof. Dr. Ir. Hj. Istirochah Pujiwati, M.P. memperoleh kepercayaan pemerintah sebagai guru besar efektif sejak 1 April 2025. Sedangkan Prof. Dr. apt. Yudi Purnomo, M.Kes. dan Prof. Dr. Dwi Susilowati, S.P., M.P. memperoleh jabatan guru besar efektif per 1 Desember 2025.

Menurut Prof. Junaidi Mistar, Ph.D., penambahan guru besar menjadi bagian dari target besar Unisma dalam meningkatkan kualitas akademik kampus. Saat ini Unisma memiliki sekitar 370 dosen dan menargetkan sedikitnya 10 persen di antaranya menyandang jabatan profesor.

4

“Kita menargetkan jumlah guru besar dalam masa kepemimpinan saya bisa mencapai 10 persen dari jumlah dosen. Jumlah dosen kita sekarang 370, sehingga minimal ada 37 guru besar yang ingin kita capai sampai akhir masa jabatan saya,” katanya.

Ia optimistis target tersebut dapat tercapai dalam dua tahun ke depan. Pasalnya, saat ini terdapat sekitar 40 dosen dengan jabatan Lektor Kepala yang sedang dipersiapkan menuju jenjang guru besar.

“Insyaallah masih ada dua tahun ke depan dan kita punya sekitar 40 dosen Lektor Kepala yang siap didorong menjadi guru besar,” ungkapnya.

2

Untuk mempercepat pencapaian itu, Unisma menyiapkan berbagai dukungan mulai dari insentif publikasi hingga pendampingan khusus bagi dosen. Kampus memberikan bantuan pembiayaan publikasi jurnal bereputasi internasional bagi dosen yang tengah mengejar syarat profesor.

“Kita beri insentif untuk publikasi. Mereka diminta berkarya dan mempublikasikan hasil riset di jurnal bereputasi. Kebutuhan untuk publikasi itu kita siapkan,” jelas Prof. Junaidi Mistar, Ph.D.

6

Pendampingan juga dilakukan melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat atau LPPM. Menurutnya, ada tim khusus yang mendampingi dosen Lektor Kepala dalam proses publikasi internasional agar lebih cepat memenuhi syarat menuju guru besar.

Ia mengakui Fakultas Pertanian menjadi fakultas dengan jumlah guru besar paling dominan di Unisma. Hal itu tidak lepas dari sejarah Fakultas Pertanian sebagai fakultas tertua di kampus tersebut sehingga lebih siap dari sisi sumber daya dosen. Meski demikian, pihak kampus kini mulai mendorong pemerataan guru besar di berbagai program studi dan fakultas.

“Kita berharap setiap program studi punya guru besar. Kalaupun belum sampai level program studi, minimal setiap fakultas memiliki guru besar yang merata,” katanya.

Baca Juga : Gak Perlu Panik, Ini Cara Cepat Mengurus Sertifikat Tanah yang Hilang

Penguatan jumlah profesor juga dipandang penting untuk mendukung target internasionalisasi kampus. Prof. Junaidi Mistar, Ph.D. menegaskan guru besar diharapkan mampu memperkuat kualitas riset dan publikasi internasional sebagai modal menuju kampus berkelas dunia.

“Tentu guru besar itu kita harapkan lebih banyak berkontribusi untuk melesatkan Unisma menjadi perguruan tinggi berkelas dunia. Karena itu riset dan publikasinya harus semakin banyak masuk jurnal internasional,” ujarnya.

Dalam beberapa waktu terakhir, Unisma juga intens memperluas kerja sama internasional. Salah satunya melalui program joint degree 2+2 dan 3+1 bersama Sinjan University. Program tersebut memungkinkan mahasiswa Unisma menempuh pendidikan lintas negara hingga memiliki peluang bekerja di Taiwan selama dua tahun setelah lulus.

Selain itu, dua mahasiswa Fakultas Peternakan juga baru diberangkatkan ke Taiwan untuk mengikuti program TEEP atau Taiwan Experiential Education Program di Kaohsiung Medical University dengan beasiswa penuh dari pemerintah Taiwan. Mereka akan belajar di laboratorium peternakan selama tiga bulan.

Tidak hanya di Asia, Unisma juga memperluas jejaring akademik ke Afrika. Pekan lalu, Unisma menandatangani nota kesepahaman dengan Madonna University, sebuah perguruan tinggi Katolik di Nigeria. Kerja sama itu difokuskan pada pengembangan produksi singkong dan pengolahan pascapanen.

“Mereka ingin belajar banyak dari kita terkait pengolahan singkong. Selama ini mereka belum mengetahui bahwa singkong bisa diolah menjadi banyak jenis makanan,” kata Prof. Junaidi Mistar, Ph.D.

Di sisi lain, Unisma juga tengah memperluas program studi baru yang dinilai masih langka di Indonesia. Kampus tersebut resmi memperoleh izin pembukaan Program Sarjana Sains Lingkungan pada 6 Maret 2026. Program studi itu disebut baru dimiliki sekitar delapan perguruan tinggi di Indonesia pada jenjang sarjana.

Selain itu, Unisma juga baru mendapatkan izin operasional Program Magister Pertanian Berkelanjutan pada 5 Mei 2026. Kehadiran program tersebut sekaligus melengkapi total 40 program studi di Unisma.

Prof. Junaidi Mistar, Ph.D. menilai prospek kedua program studi tersebut sangat besar karena kebutuhan tenaga ahli lingkungan dan pertanian berkelanjutan terus meningkat.

“Permasalahan lingkungan di Indonesia sangat serius sementara tenaga ahli di bidang itu masih sedikit. Begitu juga pertanian berkelanjutan, pilihan program studinya masih sangat terbatas,” ujarnya.


Topik

Pendidikan unisma guru besar rektor unisma gubes unisma



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bangkalan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Dede Nana