Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Apa Itu Bediding? Fenomena Udara Dingin Saat Musim Kemarau yang Mulai Terasa di Indonesia

Penulis : Mutmainah J - Editor : Yunan Helmy

04 - Jun - 2026, 18:36

Placeholder
Ilustrasi kedinginan. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Memasuki musim kemarau, masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara, biasanya mulai merasakan udara yang lebih dingin pada malam hingga pagi hari. Fenomena ini dikenal dengan sebutan bediding, istilah yang cukup populer di kalangan masyarakat Jawa.

Lalu, apa sebenarnya bediding dan mengapa fenomena ini terjadi setiap tahun?

Baca Juga : Soroti Konten Maut di Pantai Jember, Khusnul Khuluk DPRD Jatim Desak Evaluasi Standar Wisata

Asal-usul Istilah Bediding

Dihimpun dari berbagai sumber, bediding merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang digunakan untuk menggambarkan kondisi udara yang terasa lebih dingin dari biasanya saat musim kemarau. Fenomena ini umumnya terjadi pada periode Juli hingga September, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan yang telah memasuki puncak musim kemarau.

Menurut Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sopaheluwakan, bediding merupakan fenomena musiman yang memang lazim terjadi setiap tahun.

"Kalau masyarakat Jawa bilangnya bediding. Itu sebenarnya tidak ada kaitannya dengan fenomena Aphelion secara sebab akibat, tetapi memang terjadi pada waktu yang hampir bersamaan," jelas Ardhasena.

Penyebab Bediding Menurut BMKG

BMKG menjelaskan bahwa penyebab utama bediding bukan karena posisi Bumi yang sedang berada jauh dari Matahari atau fenomena Aphelion, melainkan karena pengaruh kondisi atmosfer saat musim kemarau.

Salah satu faktor terpenting adalah Angin Monsun Australia yang bertiup menuju Benua Asia melewati wilayah Indonesia. Angin ini berasal dari kawasan yang relatif kering dan membawa sedikit uap air.

Saat malam hari, minimnya kandungan uap air di atmosfer membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Akibatnya, suhu udara di permukaan menjadi lebih rendah dan terasa dingin.

Mantan Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa angin monsun tersebut melewati perairan Samudera Hindia yang memiliki suhu permukaan laut relatif lebih rendah sehingga turut memengaruhi suhu udara di wilayah Indonesia.

Selain itu, keberadaan badai tropis di wilayah utara Indonesia atau sekitar Filipina juga dapat memperkuat aliran udara dari Australia menuju Asia. Kondisi ini membuat udara dingin semakin terasa, terutama di wilayah Jawa bagian barat.

Ketika musim kemarau, langit umumnya lebih cerah dan minim tutupan awan. Kondisi ini membuat panas yang diterima bumi pada siang hari lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer saat malam.

Tanpa adanya lapisan awan yang berfungsi menahan panas, suhu udara dapat turun lebih cepat sehingga udara terasa lebih dingin menjelang pagi.

Karena itulah fenomena bediding biasanya paling terasa pada malam hingga dini hari dibandingkan siang hari.

Benarkah Bediding Disebabkan Fenomena Aphelion?

Setiap tahun, fenomena suhu dingin saat musim kemarau sering dikaitkan dengan Aphelion, yaitu kondisi ketika Bumi berada pada titik terjauhnya dari Matahari dalam orbitnya.

Namun BMKG menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak tepat.

Menurut Ardhasena, Aphelion memang terjadi setiap tahun, tetapi bukan penyebab langsung suhu dingin yang dirasakan masyarakat Indonesia. Penyebab utama tetap berasal dari pengaruh Angin Monsun Australia yang membawa massa udara lebih kering.

Dengan kata lain, kemunculan bediding dan Aphelion hanya terjadi pada periode waktu yang berdekatan, bukan memiliki hubungan sebab-akibat.

Baca Juga : Olah Sampah, Kolaborasi Unikama, Hotel dan UMKM Dorong Transformasi Food Waste Bernilai Ekonomi

Wilayah yang Berpotensi Mengalami Bediding

Prakirawan Cuaca BMKG, Yuni Maharani, menyebut fenomena bediding biasanya lebih dahulu dirasakan di wilayah Indonesia bagian selatan yang telah memasuki musim kemarau.

Beberapa daerah yang berpotensi mengalami bediding antara lain:

• Nusa Tenggara Timur (NTT)

• Nusa Tenggara Barat (NTB)

• Bali

• Wilayah selatan Pulau Jawa

• Kawasan dataran tinggi di Pulau Jawa

• Sebagian wilayah Sumatera Selatan

• Lampung

Meski demikian, intensitas udara dingin tidak selalu sama di setiap daerah. Kondisi geografis, ketinggian wilayah, serta perkembangan musim kemarau menjadi faktor yang memengaruhi tingkat dinginnya udara.

Meski tergolong fenomena normal yang terjadi hampir setiap tahun, BMKG mengimbau masyarakat tetap menjaga kondisi kesehatan selama periode bediding berlangsung.

Suhu udara yang lebih rendah dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti flu, batuk, hingga gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

Karena itu, masyarakat disarankan menggunakan pakaian yang lebih hangat saat malam dan pagi hari serta menjaga daya tahan tubuh agar tetap prima selama musim kemarau.


Topik

Peristiwa Bediding udara dingin fenomena alam



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bangkalan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa