Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Gus Kikin: NU Harus Jaga Sanad Keilmuan dan Persatuan di Tengah Tantangan Zaman

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

24 - Jul - 2026, 08:58

Placeholder
Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin (kiri) bersama Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A (kanan) dalam acara Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) Angkatan I yang digelar PCNU Kabupaten Gresik pada 22-26 Juli 2026. (Foto: istimewa)

JATIMTIMES - Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menegaskan pentingnya menjaga sanad keilmuan sekaligus memperkuat semangat persatuan sebagai warisan utama Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari. Menurutnya, dua hal tersebut harus terus dirawat lintas generasi agar tetap menjadi fondasi perjuangan Nahdlatul Ulama (NU).

Pesan itu disampaikan Gus Kikin saat menemui peserta Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) Angkatan I yang digelar PCNU Kabupaten Gresik pada 22-26 Juli 2026. Kegiatan tersebut diikuti 72 peserta dari berbagai daerah, termasuk Menteri Agama Prof Nazaruddin Umar yang hadir sebagai peserta istimewa.

Baca Juga : Bakat Amora Sukma Negara, Putri Ketua DPRD Banyuwangi Memikat Hati Penonton Malam Pesona Keroncong 2026

"Warisan penting para muassis/pendiri NU yang harus terus dirawat secara lintas generasi adalah pentingnya menjaga sanad keilmuan dan menjaga kepemimpinan NU yang mementingkan semangat persatuan," kata Gus Kikin. 

Foto bersama para tokoh NU Jawa Timur bersama Menag. (Foto: istimewa)

Foto bersama para tokoh NU Jawa Timur bersama Menag. (Foto: istimewa)

Pengasuh Pesantren Tebuireng itu menjelaskan, sosok Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari bukan hanya dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama, tetapi juga tokoh yang berhasil mempererat persatuan umat Islam dan bangsa melalui jalur pendidikan serta sanad keilmuan yang kuat.

Menurut Gus Kikin, pengaruh Hadratussyaikh sangat besar dalam mencetak ulama dan tokoh masyarakat. Bahkan, pada 1942 tercatat sekitar 20 ribu tokoh besar maupun kecil di Pulau Jawa merupakan santri Hadratussyaikh.

"Pada tahun 1942, tercatat sekitar 20.000 tokoh besar maupun kecil di Pulau Jawa merupakan santri Hadratussyekh. Itu menunjukkan luasnya pengaruh sanad keilmuan," ujarnya.

Suasana Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) Angkatan I yang digelar PCNU Kabupaten Gresik pada 22-26 Juli 2026. (Foto: istimewa)

Suasana Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) Angkatan I yang digelar PCNU Kabupaten Gresik pada 22-26 Juli 2026. (Foto: istimewa)

Ia menilai, di tengah berkembangnya beragam pemikiran keagamaan saat ini, umat Islam membutuhkan pijakan yang kuat agar tidak kehilangan arah. Karena itu, menjaga kesinambungan sanad keilmuan menjadi bagian penting untuk memastikan ajaran agama tetap bersambung hingga Rasulullah SAW.

"Menjaga, melanjutkan, dan mewariskan sanad merupakan ikhtiar agar mata rantai keilmuan tetap tersambung hingga Hadratur Rasul, sebab ilmu yang lahir dari pemikiran manusia semata tanpa keterhubungan dengan sanad kenabian berpotensi menjauhkan umat dari akar tradisi Islam yang otoritatif," jelasnya.

Gus Kikin mengingatkan bahwa setiap mata rantai transmisi ilmu mengandung keberkahan yang harus dijaga. Karena itu, putusnya sanad bukan hanya menghilangkan hubungan keilmuan, tetapi juga memutus kesinambungan perjuangan para ulama.

"Alangkah ruginya jika kita terputus dari sanad, sebab di dalamnya terdapat kesinambungan perjuangan yang akan terus dicatat sebagai amal jariyah," imbuh cicit Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari tersebut.

Baca Juga : Update Laka Hiace Renggut 3 Korban Jiwa di Tol Pandaan-Malang: 5 Korban Luka Masih Dirawat

Ia menambahkan, Pesantren Tebuireng hingga kini tetap berkomitmen merawat sanad keilmuan melalui pengajaran kitab-kitab klasik, tradisi pesantren, serta penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Upaya tersebut dinilai penting agar warisan ulama tetap hidup dan mampu menjawab tantangan zaman.

Menurutnya, pembaruan dalam Islam tidak boleh dimaknai sebagai upaya memutus hubungan dengan tradisi. Sebaliknya, setiap pembaruan harus tetap berpijak pada nilai dan ajaran yang diwariskan para ulama.

"Jika seluruh pembaruan bermuara pada terputusnya sanad dan tercerabutnya akar tradisi, maka yang hilang bukan hanya identitas kita sebagai warga Nahdliyin, tetapi juga keberkahan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi," tegasnya.

Selain menyoroti pentingnya sanad, Gus Kikin juga mengajak seluruh kader NU terus menjaga persatuan sebagaimana cita-cita para pendiri organisasi saat mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926.

"NU lahir tahun 1926 dengan tujuan membangun persatuan berbasis Ahlussunnah wal Jamaah, yang menjaga keseimbangan lahir dan batin, serta keseimbangan antara aspek kognitif dan afektif," katanya.

Menutup arahannya, Gus Kikin berharap PMKNU mampu melahirkan kader-kader pemimpin yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedewasaan spiritual dan kepedulian sosial.

"Banyak hal yang harus kita pikirkan, banyak hal yang harus kita lakukan. Dan yang paling utama adalah bagaimana membangun ukhuwah. Wa'tashimu bihablillahi jami'an wa la tafarraqu," pungkas Gus Kikin. 


Topik

Peristiwa pmknu gus kikin pesantren tebuireng



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bangkalan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri