Fenomena Langka Okultasi Asteroid 26 April 2026, Gerhana Bintang Bisa Diamati dari Indonesia
Reporter
Mutmainah J
Editor
Nurlayla Ratri
25 - Apr - 2026, 05:59
JATIMTIMES - Langit malam Indonesia akan menghadirkan fenomena astronomi langka pada akhir April 2026. Peristiwa ini dikenal sebagai okultasi asteroid, yang sering disebut sebagai “gerhana” bintang karena efek visualnya yang menyerupai gerhana.
Fenomena ini dijadwalkan terjadi pada Minggu, 26 April 2026 sekitar pukul 19.41 WIB dan dapat diamati dari berbagai wilayah di Tanah Air. Informasi tersebut disampaikan oleh Observatorium Bosscha melalui laman resminya.
Baca Juga : BPJS Ketenagakerjaan Gandeng NU, Bidik Perlindungan Pekerja Informal Skala Nasional
Okultasi merupakan peristiwa ketika sebuah benda langit tertutup oleh benda langit lain yang tampak lebih besar dari sudut pandang pengamat di Bumi. Dalam momen ini, cahaya bintang akan terlihat meredup atau bahkan menghilang selama beberapa detik karena tertutup asteroid.
Pada kejadian gerhana bintang kali ini, asteroid (1201) Strenua akan melintas tepat di depan bintang HIP 35933. Saat lintasan tersebut terjadi, cahaya bintang akan tertutup sejenak sebelum kembali terlihat normal.
Strenua sendiri merupakan asteroid yang berada di sabuk utama antara Mars dan Jupiter. Ukurannya mencapai puluhan kilometer, namun tergolong redup sehingga sulit diamati secara langsung tanpa metode khusus.
Pengamatan melalui okultasi menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengungkap informasi detail mengenai asteroid, mulai dari ukuran, bentuk, hingga karakteristik fisiknya.
Untuk mendukung pengamatan fenomena ini, Observatorium Bosscha menggelar Kampanye Nasional Pengamatan Okultasi Asteroid Strenua. Kegiatan ini melibatkan 44 titik pengamatan dari 34 institusi, komunitas, dan pengamat individu di seluruh Indonesia.
Kolaborasi ini menjadi salah satu pengamatan astronomi berbasis publik terbesar di Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, tim dari Observatorium Bosscha akan ditempatkan di beberapa lokasi strategis, seperti Lembang (Observatorium Bosscha dan Jayagiri), Ciater di Subang, serta Kupang di Nusa Tenggara Timur.
Kupang dipilih karena memiliki potensi kondisi cuaca yang lebih cerah, sehingga peluang keberhasilan pengamatan menjadi lebih tinggi.
Dengan menggabungkan data dari berbagai lokasi tersebut, para peneliti dapat merekonstruksi lintasan bayangan asteroid secara lebih akurat. Hasilnya diharapkan mampu memberikan gambaran detail mengenai bentuk dan dimensi asteroid Strenua.
Tips Menyaksikan Fenomena Okultasi Asteroid
Agar momen langka ini tidak terlewat, berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan:
Baca Juga : PDI Perjuangan Kabupaten Malang Gelar Musancab, Targetkan 50 Persen Pengurus dari Kalangan Gen Z
• Cari lokasi minim polusi cahaya
Pilih tempat yang jauh dari lampu kota agar cahaya bintang lebih jelas terlihat.
• Gunakan alat bantu jika ada
Teleskop atau teropong akan sangat membantu, meski dalam kondisi tertentu fenomena ini juga bisa diamati tanpa alat.
• Perhatikan waktu dengan tepat
Fenomena berlangsung sangat singkat (hanya beberapa detik), jadi pastikan kamu sudah siap sebelum pukul 19.41 WIB.
• Pantau kondisi cuaca
Langit cerah tanpa awan menjadi faktor utama keberhasilan pengamatan.
• Gunakan aplikasi peta langit
Aplikasi astronomi di ponsel bisa membantu menemukan posisi bintang target dengan lebih mudah.
• Bersabar dan fokus
Karena durasinya singkat, kamu perlu fokus agar tidak melewatkan momen saat cahaya bintang tiba-tiba meredup.
Fenomena okultasi asteroid ini menjadi kesempatan langka bagi masyarakat Indonesia untuk menyaksikan langsung peristiwa astronomi bernilai ilmiah tinggi. Dengan persiapan yang tepat dan kondisi cuaca yang mendukung, momen singkat ini bisa menjadi pengalaman tak terlupakan sekaligus menambah wawasan tentang keajaiban alam semesta.
