Jelang Muktamar NU, Gus Ulib Ingatkan Pemilik Suara Tak Pilih Kandidat yang Terlibat Konflik

26 - Apr - 2026, 05:04

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang, KH Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib).

JATIMTIMES – Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang, KH Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib), memberikan peringatan serius menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Muktamar tersebut menjadi momentum penting bagi keberlangsungan organisasi ke depan.

Ia mendesak para pemilik suara agar tidak memilih figur yang terlibat dalam konflik internal pada periode kepemimpinan sebelumnya demi menjaga stabilitas organisasi.

Baca Juga : Nyaris Jadi Korban Penembakan, Donald Trump: Tak Ada Kaitannya dengan Iran

Menurut Gus Ulib, konflik di level elite bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan membawa dampak psikologis dan administratif yang dirasakan hingga ke tingkat pesantren dan akar rumput.

“Pesan saya kepada PCNU dan PWNU yang punya hak suara, jangan memilih pihak yang terlibat konflik tersebut,” tegas Gus Ulib, Minggu (26/4/2026).

Meski secara struktural tidak memiliki hak suara dalam muktamar, Gus Ulib menegaskan bahwa pesantren tetap memegang otoritas moral sebagai penyeimbang kebijakan PBNU. Ia berharap nakhoda baru nantinya adalah figur yang benar-benar memahami tradisi dan kebutuhan riil warga Nahdliyin.

Terkait bursa kandidat, munculnya dua tokoh dzuriyah pendiri NU asal Jombang, yakni KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) dari Tebuireng dan KH Abdus Salam Shohib (Gus Salam) dari Denanyar, diakui Gus Ulib sebagai hal yang sah secara organisasi. “Secara kemampuan, beliau berdua tidak diragukan. Keduanya juga dzuriyah pendiri NU,” ungkapnya.

Namun, Gus Ulib memberikan catatan kritis mengenai peran sentral kedua tokoh tersebut bagi kelangsungan pesantren masing-masing. Ia menilai, masuknya tokoh kunci pesantren ke dalam struktur pengurus pusat merupakan sebuah kehilangan besar bagi proses kaderisasi ulama di daerah.

Baca Juga : Gempar! Tembakan Pecah di Acara Gedung Putih, Donald Trump Langsung Dievakuasi

Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya pertimbangan matang agar kepentingan besar organisasi di PBNU tidak sampai mengorbankan fondasi utama NU, yakni pondok pesantren.

“Kalau benar maju, tentu disayangkan. Karena beliau berdua sangat sentral di pondoknya. Ini akan jadi pengorbanan besar," pungkasnya.