JATIMTIMES - Kabar meninggalnya cucu pengusaha ternama Henry Pribadi, Rylan Henry Pribadi, masih menjadi perhatian luas masyarakat. Peristiwa tragis yang terjadi secara mendadak ini menimbulkan berbagai pertanyaan, terutama terkait penyebab kematian yang disebut sebagai asfiksia atau mati lemas.
Kronologi Kejadian Versi Kepolisian Jepang
Berdasarkan keterangan resmi Kepolisian Hokkaido, lokasi kejadian merupakan area lintasan ski yang memiliki deretan tiang pembatas. Tiang-tiang tersebut dipasang dengan jarak sekitar 10 meter dan dihubungkan oleh tali sebagai penanda batas antara jalur aman dan area terlarang bagi pemain ski.
Baca Juga : Duka Mendalam Keluarga Konglomerat Henry Pribadi, Cucu Tercinta Rylan Henry Pribadi Meninggal Dunia
Saat kejadian, korban diketahui sedang meluncur seorang diri di lereng ski. Diduga, korban tidak menyadari adanya tali pembatas tersebut. Dalam kecepatan tertentu, leher korban mengenai tali hingga menyebabkan ia terjatuh keras dan langsung kehilangan kesadaran di lokasi.
Hingga saat ini, pihak kepolisian belum dapat memastikan kecepatan meluncur korban maupun posisi tubuhnya sesaat sebelum insiden terjadi. Namun, dipastikan tidak ada orang lain yang terlibat dalam kejadian tersebut.
Hasil Autopsi: Korban Meninggal Akibat Asfiksia
Untuk memastikan penyebab kematian, otoritas Jepang melakukan autopsi terhadap jenazah korban pada Jumat, 9 Januari 2026. Dari hasil pemeriksaan medis tersebut, disimpulkan bahwa Rylan Henry Pribadi meninggal dunia akibat asfiksia, yaitu kondisi kekurangan oksigen yang berujung fatal.
Apa Itu Asfiksia?
Asfiksia adalah kondisi medis ketika tubuh tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup. Jika berlangsung dalam waktu tertentu tanpa penanganan, kondisi ini dapat menyebabkan hilangnya kesadaran, kerusakan organ vital seperti jantung dan paru-paru, gangguan fungsi otak, hingga kematian.
Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, asfiksia atau suffocation menjadi salah satu penyebab kematian akibat cedera yang cukup tinggi. Pada tahun 2016, tercatat hampir 19 ribu kasus kematian akibat kondisi ini, menjadikannya penyebab kematian terbanyak kedua setelah keracunan.
Beragam Penyebab Asfiksia
Asfiksia dapat terjadi akibat berbagai faktor, baik mekanis maupun medis. Berikut beberapa penyebab yang umum terjadi:
1. Tercekik
Tekanan atau jeratan pada leher, baik oleh tangan maupun benda tertentu, dapat menutup saluran pernapasan dan pembuluh darah, sehingga suplai oksigen ke otak terhenti.
2. Paparan Zat Berbahaya
Menghirup gas beracun seperti karbon monoksida, sianida, atau hidrogen sulfida dapat menghambat distribusi oksigen dalam darah.
3. Tersedak
Makanan atau benda asing yang menyumbat tenggorokan bisa menghalangi aliran udara. Kondisi ini sering terjadi pada bayi, balita, dan lansia.
4. Reaksi Alergi Berat (Anafilaksis)
Alergi terhadap makanan atau obat tertentu dapat menyebabkan pembengkakan saluran napas secara cepat dan berisiko memicu asfiksia.
5. Penyakit Asma
Baca Juga : Polemik Griyashanta, Warga: Bukan Serta Merta Menolak, Kami Ingin Komunikasi
Serangan asma berat dapat membuat saluran pernapasan menyempit, sehingga udara sulit masuk ke paru-paru.
6. Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Asfiksia juga bisa dialami bayi saat sebelum, selama, atau setelah proses persalinan. Kondisi ini dikenal sebagai asfiksia neonatorum dan dapat dipicu oleh rendahnya oksigen ibu, tekanan darah ibu yang rendah, lilitan tali pusar, atau gangguan plasenta.
Gejala Asfiksia yang Perlu Diwaspadai
Gejala utama asfiksia adalah sesak napas. Selain itu, terdapat sejumlah tanda lain yang dapat muncul, seperti:
• Napas cepat atau hiperventilasi
• Nyeri atau rasa tidak nyaman di tenggorokan
• Sakit kepala
• Penglihatan kabur
• Kesulitan menelan
• Penurunan kesadaran
Pada bayi, gejala asfiksia dapat berupa detak jantung yang lemah, napas terengah-engah, warna kulit kebiruan, serta refleks tubuh yang menurun.
Pentingnya Kesadaran akan Risiko Asfiksia
Kasus meninggalnya Rylan Henry Pribadi menjadi pengingat bahwa asfiksia dapat terjadi secara tiba-tiba dan dalam berbagai situasi, termasuk aktivitas olahraga ekstrem. Kesadaran terhadap faktor risiko dan standar keselamatan menjadi hal penting untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
